MBG bikin pusing ibu-ibu, kenapa? [Sumber gambar]
Sedang viral di media sosial, seorang emak-emak menyatakan bahwa program ini cuma bisa bikin ibu-ibu pusing. Ia mempertanyakan, mengapa program makan bergizi untuk pelajar Indonesia tidak dikerjakan oleh dapur sekolah.
Dari rekaman video tersebut, terbongkar beberapa dugaan mengapa sulit mengembalikan dapur bergizi kepada sekolah. Kira-kira apa penyebabnya, ya?
Sering lihat film mengenai kehidupan sekolah anak-anak di luar negeri? Mereka memiliki waktu untuk menyantap makan siang, biasanya dengan mendapatkan jatah menu gratis yang disediakan oleh sekolah.
Itulah yang diharapkan oleh seorang Kalis Mardiasih, sosok wanita yang mengaku sebagai wakil ibu-ibu, dan merasa pusing dengan sistem MBG saat ini. Menurutnya, sekolah seharusnya mendapat privilege khusus untuk mengolah dan menyajikan menu-menu bagi siswa-siswa mereka.
Dalam potongan video yang diunggah oleh akun @LexMarteg di platform media sosial X tersebut, Kalis berbicara di hadapan audiensi. Ia menjelaskan bagaimana tuntutannya agar mengembalikan fungsi dapur sekolah menguap begitu saja.
Dengan bersemangat Kalis menjelaskan alasan beratnya mengembalikan dapur sekolah kepada komunitas pengelolanya. Satu hal yang pasti, terjadi konflik kepentingan karena program MBG kebanyakan dijalankan oleh institusi dan organisasi yang bersentuhan langsung dengan pemerintahan saat ini.
Seperti ibu-ibu yang lain, Kalis hanya menginginkan program makan gratis dan bergizi ini dibarengi dengan kepemilikan kantin sehat di setiap sekolah. Termasuk juga perlengkapan-perlengkapan memasak yang memadai.
Selain itu, MBG yang diinginkan oleh wanita aktivis tersebut juga ingin anak-anak bisa makan dengan menu dan gizi yang diperlukan bagi pertumbuhan mereka, seperti nasi, sayur, protein, serta buah-buahan segar. Tetapi tampaknya yang terjadi sekarang, program yang digagas oleh Presiden RI Prabowo Subianto tersebut tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Kalis menekankan bahwa cita-cita awal MBG saat ini terlalu jauh menyimpang. Yang seharusnya bisa mensejahterakan dan mencerdaskan anak bangsa, kini beralih pada mencari keuntungan semata.
Menurutnya, demi mensukseskan MBG, Kalis menuturkan bahwa banyak dapur-dapur sekolah yang dipaksa tutup. Padahal, dengan adanya dapur sekolah, para petani juga seharusnya terbantu karena pembelian bahan-bahannya juga dari pasar-pasar dan masyarakat sekitar.
Dalam diskusi yang digelar bersama penayangan film dokumenter ‘Tak Ada Makan Siang Gratis di VRTX Compound Space, Yogyakarta (18/12/2025), Kalis secara gamblang menyebut pemerintah sengaja tidak memilih ide sederhana untuk mewujudkan MBG impian. Ia membeberkan beberapa temuan data bahwa 472 dapur milik TNI, 600 sekian dapur dari Polri, belum lagi dapur-dapur milik Partai Politik, hingga dapur-dapur milik pribadi dari para pendukung.
Dalam satu cerita, ia mengambil satu contoh mengapa MBG ini bikin pusing ibu-ibu. Seorang murid yang beberapa hari absen, jatah menunya kemudian diberikan dengan pilihan menu yang seadanya.
Per seminggu, MBG-nya dirapel, anak-anak tersebut diberi dan disuruh membawa pulang paket susu kotak besar dengan biskuit susu di dalamnya. Hal ini disampaikan dengan nada emosi yang meluap-luap, menunjukkan betapa kesalnya dia sebagai seorang ibu harus menghadapi pilihan yang seperti itu.
“Nggak usah pinter juga emosi. Setiap hari mumet. Itulah suara hati (ibu-ibu) yang terpendam,” keluhnya.
Maksud hati memeluk gunung. Apa daya tangan tak sampai. Ingin hati merawat satwa liar, malah…
Sabar ada batasnya. Penggalan kalimat ini mungkin ada benarnya bila melihat sikap Muhammadiyah terhadap pemerintah…
Bencana banjir dan longsor yang menewaskan ribuan orang dan membuat banyak orang kehilangan tempat tinggal…
Terpapar viral, seorang pemuda memarahi karyawan di gerai Roti’O. Penyebabnya sepele tapi cukup serius, gara-gara…
Di tengah keputusasaan untuk menjaga kelestarian alam, Indonesia membutuhkan sosok yang berani melindungi sumber daya…
Media sosial akhir-akhir ini sedang dihangatkan dengan topik seputar perusakan alam, di mana salah satunya…