Setiap menjelang musim pemilu tiba, partai-partai baru bermunculan. Bahkan dengan nama yang aneh-aneh. Semua berharap, bisa lolos pemilu dan merasakan manisnya duduk di Senayan. Maka sejarah pemilu kita pun mencatatkan, banyak partai yang berdiri. Reformasi, menjadi era di mana gairah bikin partai begitu besar. Ratusan partai pun didirikan. Tercatat, ada 141 partai yang didaftarkan ke Departemen Kehakiman ketika itu. Namun yang lolos verifikasi dan kemudian ikut pemilu hanya puluhan saja.
Fenomena yang nampaknya bakal marak di tahun 2019 ini, sebenarnya bikin banyak orang penasaran. Sebegitu mudah kah bikin partai sehingga banyak orang yang kemudian berbondong-bondong mendaftarkan kelompok massanya? Ternyata tidak lho. Bikin partai itu susah bukan kepalang. Ada banyak hal yang harus dipersiapkan terutama modal yang luar biasa gede. Berikut beberapa alasan kenapa seseorang sebaiknya tak bikin partai apalagi kalau modalnya tipis.
Saat jadi pembicara dalam acara, ” Forum Dialog Pemerintah dengan Masyarakat dan Partai Politik,” di Lombok, NTB, Jumat 31 Maret 2017, Direktur Politik Dalam Negeri Ditjen Politik dan Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri, Bahtiar mengatakan, urat nadi utama partai itu, adalah dana. Duit. Jadi, kalau duit cekak, otomatis partai akan bermasalah. Jadi, sekarang jangan nekad, bikin partai tapi modal cekak. Boleh jadi, hanya mampu mendirikan, tapi tak mampu menggerakkan. Partai bakal cepat layu sebelum berkembang, bahkan cepat masuk kuburan.
Partai itu, adalah pilar demokrasi. Namun, pilar itu sehat dan akan kuat bila mampu mengurus dirinya sendiri. Dan bahan bakar untuk itu lagi-lagi adalah dana. Negara memang memberi bantuan bagi partai yang lolos ke DPR, DPRD provinsi, kabupaten dan kota. Bantuan dihitung per suara. Tapi menurut Bahtiar, bantuan yang diberikan negara teramat kecil. Hanya Rp 108 per suara.
Bahkan banyak juga yang terpaksa ngutang atau bahkan terpaksa berotak miring gara-gara tak lolos jadi anggota dewan. Rumah hilang, istri minta cerai, utang bergunung -gunung.
Dalam teori atau pun literatur politik, partai disebut dengan gagah, sebagai salah satu pilar utama demokrasi. Namun menurut Bahtiar, mengelola partai itu tak seindah apa yang disebutkan dalam teori. Toh, mengurus partai di tingkat kecamatan saja, begitu susah.
Di negara yang demokrasinya sudah maju, partai memang dijamin. Diperhatikan. Negara memberikan bantuan yang cukup. Tiap tahunnya negara mengulurkan tangan menutupi kebutuhan dana partai. Menurut Bahtiar, di negara seperti Amerika, Jerman, Inggris, Perancis, Denmark dan negara maju lainnya, kebutuhan dana partai tiap tahunnya, sekitar 75 persennya ditanggung negara. Di Indonesia, bantuan yang diberikan mungkin hanya 0,05 persen.
Modal memang jadi utama dalam hal apa pun, apalagi termasuk partai. Makanya, kalau tidak mampu secara finansial adalah pilihan bunuh diri dengan membangun sebuah partai. Tak heran pula kalau kemudian kita mendapati kasus-kasus korupsi dan semacamnya. Salah satu alasan kenapa begitu, jelas bagi keutuhan partai.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…