Batagaika terus melebar [image source]
Kawah merupakan lubang di permukaan bumi dan tempat keluarnya magma. Biasanya kawah memang berada di puncak, atau bisa juga di samping gunung. Di Indonesia sendiri, tentu kita sudah tidak asing dengan beberapa gunung yang memiliki kawah dengan letusannya begitu dahsyat, yaitu Krakatau, Galunggung, Rinjani hingga Gunung Toba. Bencana yang berasal dari kawah gunung biasanya memang masih bisa diprediksi sebelumnya.
Namun, bagaimana jika kawah ini muncul tiba-tiba dan tidak berada di gunung? Mungkin itu terkesan tidak masuk akal, namun bencana tersebut benar terjadi di Siberia. Kawah misterius tersebut dijuluki Kawah Batagaika. Saking misteriusnya, penduduk setempat lebih akrab menyebutnya ‘pintu ke dunia bawah tanah’ atau bahkan ‘mulut neraka’. Seperti apa sebenarnya kawah Batagaika tersebut?
Kawah ini pertama muncul di bekas hutan Alexander Gabyshev/Siberian Times yang kerontang. Hutan tersebut awalnya memang digunduli demi pembangunan jalan pada tahun 1960-an. Namun, saat pohon terakhir tumbang, kawah misterius tiba-tiba muncul.
Berjalannya waktu, lubang misterius tersebut makin melebar. Tiap tahunnya, terus merekah setidaknya 10 hingga 30 meter. Kawah Batagaika terus membuktikan reputasinya sebagai gerbang menuju dunia lain. Warga setempat menduga jika lubang tersebut dihuni oleh makhluk-makhluk mengerikan seperti monster atau makhluk neraka lainnya.
Anggapan mistis itu ditepis oleh Profesor Julian Murton dari Universitas of Sussex, Inggris. Di mana ia menguak misteri dari suara gemuruh tersebut. Setelah melakukan penelitian dengan tim di lokasi Batagaika di dekat Desa Batagai, Distrik Verkhoyansk, misteri pun terpecahkan.
Dalam sebuah studi jurnal ilmiah juga dijelaskan, bahwa selain memberi efek buruk melepaskan gas rumah kaca, sejatinya kawah tersebut juga memiliki manfaat, yaitu petunjuk mengenai perubahan iklim yang terjadi ribuan tahun lalu. Di dalamnya terdapat bangkai-bangkai hewan, termasuk bangkai kuda berusia 4.400 tahun dan juga hutan yang membantu.
Lapisan demi lapisan tanah tersebut menggambarkan perubahan iklim secara berkala pada masa lampau, sekitar 200.000 tahun lalu. Para ahli juga berharap jika informasi ini akan membantu memprediksi apa yang akan terjadi pada planet di masa depan.
Seperti kata pepatah, kita akan menuai apa yang kita tanam. Demikian juga ketika kita melakukan hal buruk pada alam, bencana buruk juga pasti datang. Semoga keberadaan kawah Batagaika menjadi cermin, betapa hutan memiliki peran penting. Apaaun alasannya, tidak seharusnya hutan digunduli.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…