Dari sekian banyak negara, yang paling bisa dianggap saingan Indonesia hanyalah Malaysia. Tak hanya karena faktor geografis saja, tapi juga tentang kultur yang nyrempet-nyrempet Indonesia. Aroma saingan ini juga sudah terbentuk lama sekali. Momentum awalnya ya ketika Presiden Soekarno marah-marah lewat pidato yang terngiang sampai hari ini dengan tajuk Ganyang Malaysia-nya itu.
Waktu terus berjalan, Indonesia makin digelitiki Malaysia untuk mengobarkan rasa saingan yang kini mungkin sudah berubah menjadi seteru abadi. Gara-garanya ya masalah main klaim kebudayaan dan pulau yang pernah terjadi dulu. Wajar dan otomatis, kalau sampai hari ini rasa ketidaksukaan itu masih terpelihara.
Malaysia adalah saingan berat. Layaknya sikap dalam persaingan, kita pasti saling berpacu untuk menunjukkan siapa yang terbaik. Sayangnya, persaingan kita melawan Malaysia lebih banyak dimenangkan oleh mereka dalam banyak hal.
Selain Singapura, negara tujuan berobat prioritas orang Indonesia adalah Malaysia. Alasannya sudah jelas karena fasilitas kesehatan di sini lebih oke sehingga tingkat kesembuhannya lebih tinggi pula. Sebenarnya fasilitas kesehatan Indonesia juga cukup memadai. Sayangnya, banyak yang beranggapan kalau manajemen sumber daya manusianya miris.
Kalau menurut penilaian subyektif, kita tentu akan menganggap Malaysia tidak ada apa-apanya dalam segala hal. Namun, sayangnya, data yang ada justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Misalnya dalam peringkat negara paling bersih dari korupsi, Malaysia mencatatkan angka 54 dunia.
Siapa yang bisa menyangkal kekayaan Indonesia. Bahkan kalau dibandingkan dengan negara paling kaya, misalnya Brunei, Indonesia jelas lebih jumawa. Tapi, sayangnya, rakyat Indonesia tidak semakmur mereka. Alasannya sudah jelas karena kekayaan ini tidak diatur dengan baik. Kalau meminjam istilah Pandji Pragiwaksono, Indonesia is a rich country, but poorly managed.
Dari segi ekonomi kita sudah jelas kalah, lalu bagaimana dengan hal-hal yang bukan fundamental seperti olahraga khususnya sepak bola? Ya, Indonesia bisa dibilang kalah telak pula. Akan sangat panjang untuk membahas prestasi kedua Timnas. Jadi, kita simpulkan saja pakai standar yang diakui dunia. Ya, apalagi kalau bukan peringkat FIFA.
Ah, yang satu ini sebenarnya tak usah disinggung karena hampir semua orang Indonesia tahu kalau Malaysia jauh lebih oke. Ya, pendidikan di sana bisa dibilang levelnya lebih tinggi. Acuannya sendiri banyak, misalnya jumlah mahasiswa asing di sini yang totalnya hampir 80 ribu. Atau mungkin peringkat dunia kampus-kampus Malaysia yang jelas lebih unggul dari deretan universitas terkemuka di Indonesia.
Hampir di banyak sektor kita kalah dengan Malaysia. Namun, data-data ini bukanlah sesuatu yang fix atau tetap. Kita masih sangat-sangat mungkin mengubah angka-angka dan peringkat yang ada. Masalahnya hanya ada pada diri orang Indonesia sendiri. Apakah mau untuk berubah menjadi lebih baik. Jika pada suatu ketika orang-orang Indonesia mau berbenah, bukan hal yang tidak mungkin suatu saat NKRI bisa berdiri di top level untuk semua hal.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…