Beberapa hari ini, panasnya pemberitaan tentang kasus massa menghakimi seorang tukang service tak henti bergulir. Melayangnya nyawa Joya yang diduga korban salah sasaran tersebut membuat banyak pihak geram. Nyatanya, rasa kecewa tidak hanya datang dari keluarga korban. Baik netizen dan pihak yang berwajib juga menyayangkan tindakan warga yang membakar Joya hidup-hidup.
Sejauh ini, polisi juga mengimbau jika warga tidak memiliki hak menghukum seseorang meski diduga melakukan pidana. Kasus pembakaran Joya setidaknya membuat kita belajar, bahwa main hakim sendiri justru berujung penyesalan. Dan setidaknya, inilah empat dampak buruk yang langsung dirasakan sepeninggal Joya karena dibakar massa.
Sudah dibahas sebelumnya jika dengan alasan apapun, main hakim sendiri bukanlah tindakan yang tepat. Terlebih di Indonesia sudah memiliki penegak hukum yang bertugas. Seandainya korban memang benar-benar mengambil ampli di mushala, tak sepantasnya warga menghadiahi Joya dengan beribu bogem mentah. Bayangkan, hanya karena ampli senilai 250 ribu, Joya sampai diperlakukan seperti tikus got.
Kenyataan paling pahit dialami oleh Siti Jubaida, istri dari Joya tersebut harus kehilangan suami di usianya yang begitu muda. Terlebih anak sulungnya masih berusia 5 tahun, sementara kondisi Siti sendiri tengah hamil 6 bulan.
Menghilangkan nyawa seseorang merupakan dosa berat yang bahkan membuat hidup seseorang tidak akan tenang. Terlebih tindakan tersebut dilakukan dengan sadis. Sebagian netizen menganggap jika warga yang turut terlibat dalam menghakimi Joya tidak akan sanggup tidur nyenyak, tidak mampu makan enak dan pasti akan terbayang-bayang bagaimana kondisi korban selama dihajar massa.
Kisah tragis Joya tak henti jadi topik pembahasan di sosial media. Bahkan, seorang netizen bernama Eko Kuntadhi menuliskan kisah Joya dalam empat sudut pandang. Cerita yang ia tulis diberi judul “Ketika Joya Dipanggang Sampai Mati”. Dalam tulisan tersebut, Eko mencoba memahami posisi masing-masing pihak, seperti korban Joya, sudut pandang massa yang main hakim sendiri, Afif yang merupakan anak korban, dan juga warga setempat.
Itulah dampak nyata yang dihasilkan oleh aksi main hakim sendiri. Meski nasi telah menjadi bubur, namun semoga kejadian ini bisa menjadi pelajaran bagi kita bahwa tak ada dampak positif yang bisa kita ambil dari aksi main hakim sendiri.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…