Antonio Cosme Velasco Soriano [Image Source]
Wanita memang sering dipandang sebagai makhluk yang lemah. Mungkin karena itulah beberapa pria masih suka bersikap semena-mena kepada wanita. Seolah-olah keberadaan wanita itu hanya untuk menyenangkan kaum pria saja. Kasus serangan dan perkosaan terhadap wanita masih banyak terjadi di berbagai negara.
Meskipun pelaku dihukum, korban juga tidak lepas dari pandangan miring. Padahal kalau memang seorang pelaku niat mencari mangsa, mereka tidak akan pandang bulu wanita seperti apa yang akan mereka serang. Tapi, tidak selamanya wanita akan diam saja dan pasrah.
Pada September 2012, Nevin Yildirim yang seorang wanita Turki juga melakukan hal sama. Ia melemparkan potongan kepala seorang pria ke tengah alun-alun. Pria tersebut adalah Nurettin Gider, tetangganya yang telah memperkosanya dan mengancam akan menyebarkan foto telanjang Yildirim pada suami dan keluarganya.
Chiomara adalah seorang bangsawan daerah Galatian yang sekarang telah menjadi wilayah Turki. Ia adalah istri dari kepala komando Orgiagon dari suku Tectosagi yang menyerang bangsa Romawi tahun 189 SM. Ketika mereka mengalami kekalahan, Chiomara ditawan oleh seorang prajurit Roma. Prajurit tersebut menggodanya, tapi dengan tegas ia tolak. Namun penolakan ini membuat Chiomara diperkosa oleh prajurit tersebut.
Setiap ibu akan selalu melindungi anaknya. Jika anaknya terluka, maka sang ibu akan merasakan hal yang sama. Mungkin hal inilah yang mendasari perbuatan ngeri seorang ibu yang putrnya diperkosa ini. 7 tahun setelah putrinya yang berusia 13 tahun diperkosa, sang ibu bertemu lagi dengan pelaku, Antonio Cosme Velasco Soriano di depan sebuah kafe. Pria tersebut sebenarnya divonis 9 tahun penjara, namun 3 hari setelah vonis ia malah bebas berkeliaran.
Di Makkapurva, India tahun 2008 lalu, seorang wanita 35 tahun menggegerkan warga. Pasalnya dengan tenang ia berjalan ke pasar dengan berlumuran darah dan memegang kepala seorang pria. Sontak orang-orang di pasar berteriak ketakutan dengan pemandangan tersebut.
16 Februari 2005, Jackie Clarke mengundang seorang pria ke rumahnya. Ia kemudian menuangkan kopi yang sudah diberi obat tidur sebelumnya. Jackie dan putranya yang berusia 19 tahun kemudian mengikat pria tersebut dan memukuli kakinya dengan tongkat pemukul baseball. Tindakan ini ia lakukan karena pria tersebut pernah memperkosanya.
Memang terdengar mengerikan, namun tindakan pemerkosaan memang tidak bisa dimaafkan. Tidak hanya melukai fisik, perkosaan juga berakibat pada mental korban. Main hakim sendiri sebenarnya juga bukan hal yang bisa dibenarkan. Namun jika hukum tidak bisa membantu korban atau tidak memberikan hukuman yang setimpal pada pelaku, maka tidak heran para wanita ini mengambil langkah sendiri untuk menghukum pelaku.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…