Momen pemilihan kepala daerah atau pilkada di Indonesia merupakan hal umum yang biasa terjadi masyarakat Indonesia. Tak sedikit masyarakat yang juga antusias untuk ikut berpartisipasi di dalamnya. Yang unik, pesta pemilihan wakil rakyat tersebut sering disuguhi oleh hal-hal yang tak bakal ditemui di negara manapun di dunia.
Di Indonesia sendiri, salah satunya ada di momen Pilkada menjadi pesta politik yang dinantikan oleh masyarakat. Entah ingin bertindak sebagai pemilih yang baik, atau malah sebaliknya, menjadi masyarakat yang lihai memanfaatkan “hajatan politik” tersebut untuk kepentingan pribadi. Seperti halnya kebiasaan masyarakat Indonesia di bawah ini.
Ketika para calon tersebut saling bertarung memperebutkan ‘tahta”, salah satu jurus andalan mereka adalah mencetak kaos untuk dibagikan kepada pendukungnya. Entah bakal dipilih atau tidak, yang jelas, hal ini sering dijadikan sebagai “ajang resmi” oleh masyarakat untuk mendapatkan kaos eksklusif yang bergambar tokoh partai tersebut.
Para bakal calon pemimpin tersebut, tentu bukanlah orang yang awam soal politik. Untuk menarik simpati massa, mereka kerap menggunakan jasa artis atau biduan dangdut yang lagi hits. Kenapa harus dangdut? Karena musik inilah yang diklaim sebagai musiknya pemersatu “orang Indonesia” di segala lapisan masyarakat.
Meski bukan hanya terjadi di Indonesia, “serangan fajar” semacam ini lazim dipraktekkan oleh calon-calon pemimpin yang sudah “kebelet” ingin naik tahta pemerintahan. Meski tergolong “kampanye hitam, toh banyak masyarakat yang senang dan justru menunggu-nunggu hal ini. Tidak hanya dalam bentuk uang, bentuk “suap” tersebut juga terkadang dibagi-bagikan dalam wujud sembako.
Tidak lengkap rasanya jika tidak mengobral “janji manis” pada saat kampanye Pilkada. Tak jarang, para calon tersebut mempunyai tim khusus untuk menangani komunikasi pada masyakat. Tim khusus tersebut biasanya direkrut dari berbagai lapisan masyarakat, tentunya dengan spesifikasi khusus dan tingkat pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan.
Memasang spanduk dan baliho masih menjadi syarat penting untuk keperluan “pencitraan” bakal calon tersebut. Demi meningkatkan citra dan elektabilitas di masyarakat, tak jarang proses ini tentu membutuhkan jumlah relawan yang tidak sedikit. Terutama jika jangkauan kampanye berada hingga di pelosok desa yang jauh. Tak jarang pada kejadian di lapangan, tim relawan tersebut memasang spanduk atau baliho sesuka hatinya, tanpa memperdulikan lingkungan sekitar
Meski terdapat pro dan kontra di sebuah Pilkada, sebagai masyarakat yang awam, tentu menjadi pihak yang menjaga keamanan dan suasana kondusif menjadi sebuah kewajiban. Jangan sampai ajang pemilihan kepala daerah tersebut justru menjadi sebuah “kesempatan” sesaat yang justru dapat mencederai proses demokrasi yang sedang berjalan.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…