Nasib malang agaknya menjadi kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi Yuli Sugianto atau sering disebut Yuli Sumpil. Sang dirigen Aremania ini harus rela ketiban nasib apes setelah melakukan aksi kontroversial di laga Arema Vs Persebaya beberapa waktu yang lalu. Pria yang tinggal di Gang Sumpil Malang ini mendapatkan hukuman seumur hidup tidak boleh datang ke stadion seluruh di Indonesia. Tidak hanya itu saja, berkat hal itu citranya kini juga menjadi buruk di telinga dan mata fans bola tanah air.
Tapi, seperti pada umumnya manusia yang memiliki sisi gelap dan terang, pria yang sering berkacamata hitam ini juga menyimpan hal ‘positif’ dalam kariernya memimpin para pendukung Singo Edan. Sebuah hal yang bisa jadi catatan untuk kita, jika apa yang dilakukan oleh Yuli tidak semuanya beraromakan keburukan seperti menyanyikan lagu rasis “dibunuh saja”. Lalu apa saja ‘prestasi’ dirigen nyentrik ini? Temukan jawaban di ulasan ini.
Bukan rahasia lagi dalam diri suporter bola loyalitas merupakan sikap yang penting. Selain akan ciptakan dukungan yang gila-gilaan, perilaku itu juga membuat hubungan klub dan para pendukung menjadi dekat. Dan juga hadirkan hubungan saling menguntungkan antar pendukung timnya. Layaknya menjadi contoh akan hal itu Yuli Sumpil juga memiliki loyalitas yang tak usah diragukan lagi.
Selain berkontribusi untuk kesebelasan yang dibelanya, Yuli ternyata juga tebarkan hal-hal positif di ranah suporter sepak bola tanah air. Dilansir laman JawaPos.com, kiprahnya bersama beberapa dedengkot Aremania mampu mengubah wajah suporter Indonesia. Berkat hal tersebut konon Yuli Sumpil sempat dianggap sebagai pelopor suporter kreatif di Indonesia.
Dari sekian hal tadi, mungkin penganugerahan Arema menjadi suporter terbaik di Indonesia dan konon juga di Asia Tenggara adalah catatan emas tertinggi Yuli Sumpil. Dilansir laman Bolanews, suporter Aremania ini menjadi yang terbaik di Asia sebanyak tiga kali. Sedangkan, kala tahun 2000-an lantaran sering membuat banyak orang menaruh dejak kagum, mereka diberi label terbaik oleh Agum Gumelar.
Selain di lapangan hijau, nama Yuli juga sempat harum di kancah perfilman Indonesia. Kendati bukan film-film besar yang ia bintangi, namun agaknya pesan kebaikan begitu lancar disampaikannya kala berperan di depan kamera. Dari penelusuran penulis ada dua cinema layar lebar yang pernah memunculkan sosok pria 42 tahun ini olehnya yakni Romeo& Juliet dan The Conductors.
Dan hebatnya ketika bermain di The Conductors filmnya tersebut berhasil torehkan kisah emas. Dilansir laman Indosport, film yang menceritakan tentang diregen di tanah air itu terpilih sebagai cinema layar lebar terbaik Festival Film Indonesia tahun 2008. Melihat hal tersebut agaknya dunia peran bisa jadi pilihan Yuli Sumpil setelah sepak bola.
Seperti yang telah diungkapkan di awal tadi, kalau kehidupan manusia seperti koin yang memiliki sisi satu dan lainnya, apa yang tergambar di ulasan tadi adalah bukti bagaimana Sam Yuli ini bisa kok goreskan hal positif. Jadi buat kalian harusnya tetap menjunjung respect terhadap siapa saja, meski di matamu mereka buruk. Ingat, rivalitas hanyalah 90 menit selebihnya kita adalah putra dan putri yang berkewarganegaraan Indonesia.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…