Gomos menunjukkan sertifikat dari NASA [image source]
Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa Indonesia memiliki pemuda dan pemudi yang sangat berprestasi. Di samping banyaknya pelajar Indonesia yang berhasil membawa piala kebanggaan dari aneka macam kompetisi robotik di luar negeri, ternyata kita masih memiliki stok prestasi membanggakan lainnya. Meskipun saat ini banyak yang memberitakan tentang betapa ‘bobroknya’ mental anak-anak muda kita karena pengaruh perkembangan zaman, tenang saja karena kita masih punya mereka yang berpotensi besar.
Salah satunya sebutlah nama Gomos Parulian Manalu, pemuda asal Pematangsiantar yang sempat mendapat undangan khusus dari Badan Antariksa Amerika Serikat atau NASA. Bahkan hasil karya pemuda yang satu ini juga ikut dibawa ke luar angkasa oleh NASA. Kurang membanggakan apa coba remaja yang satu ini. Namun demikian, ternyata perjuangan Gomos tidak semulus misi NASA ke bulan lho.
Orang tua mana yang tidak bangga melihat anaknya dipercaya menjadi salah satu perwakilan negara untuk mengunjungi instansi se-keren NASA? Itulah yang mungkin dirasakan oleh orang tua Gomos, seorang siswa SMA Del Laguboti, Sumatera Utara. Tahun lalu Gomos dan salah satu kawannya mendapat kesempatan menyampaikan risetnya yang bertajuk Micro-Aerobic Metabolism of The Yeast Saccharromyces Cerevisae In A Microgravity Environment di Amerika Serikat. Tak hanya itu, siapa sangka rancangan Gomos dan kawannya bernama Gilbert ini ternyata juga telah mengorbit di ketinggian kurang lebih 400 km lho.
Nama Gomos tentu saja menjadi salah satu siswa yang sangat menginspirasi. Pasalnya meskipun sehari-hari dibesarkan di keluarga yang kurang mampu namun dia tetap bisa menjaga prestasinya dengan gemilang. Ibu Gomos, Juli Rosdiana Hutabarat, sehari-hari hanya berjualan roti di terminal. Dan Juli mengaku bahwa selama ini dia siap banting tulang agar Gomos bisa terus melanjutkan pendidikan serta meraih cita-citanya.
Karena terlahir di keluarga yang kurang mampu tentu saja Gomos tidak memiliki fasilitas pendidikan layaknya kawan-kawannya. Dia tidak bisa dengan leluasa membeli buku atau media belajar untuk menunjang keperluan belajarnya dikarenakan untuk makan sehari-hari saja keluarganya cukup sulit. Namun tentu saja keadaan itu tidak menghalangi niat Gomos untuk belajar. Sejak kecil, pemuda ini mengaku sering membaca buku-buku bekas yang dibawa sang ayah saat memulung.
Barang siapa bersungguh-sungguh, pasti Tuhan akan memberikannya jalan. Itulah mungkin kalimat yang tepat untuk seorang Gomos. Kegigihannya dalam meraih pendidikan saat ini sudah membawanya menjadi salah satu pemuda yang mendapat undangan bergabung di universitas terkemuka di Indonesia, Institut Teknologi Bandung atau ITB. Bahagianya lagi Gomos kali ini mendapatkan beasiswa sehingga orang tuanya tak lagi harus susah payah membayar biaya pendidikannya.
Gomos Parulian Manalu mungkin hanya salah satu contoh pemuda Indonesia yang memiliki prestasi tinggi di tengah keterbatasan. Bayangkan saja, seorang siswa anak penjual roti dan buruh bangunan sudah berhasil menginjakkan kaki di Amerika atas undangan dari sebuah institusi yang bergengsi. Pemuda yang bukan belajar dari buku-buku rapi di toko buku, melainkan dari buku yang sudah dibuang oleh orang lain saat ini akan segera melanjutkan mimpinya di salah satu kampus terbaik dalam negeri.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…