PETA [image source]
Momentum untuk mengenang kembali tragedi G30S tahun ini agak berbeda. Mulai dari dikeluarkannya ultimatum untuk menyiarkan film garapan sutradara Arifin C. Noer hingga demo 299 yang dicetuskan oleh beberapa organisasi masyarakat. Sebagian dari masyarakat mensinyalir adanya kebangkitan PKI, sebagian lainnya tidak meyakini hal tersebut. Sebenarnya, yang harus diambil hikmahnya oleh masyarakat tanah air dari fenomena sosial dalam 30 September tahun ini adalah bagaimana kita menyikapi dan mengenang sejarah dengan cara kita sendiri.
Pengkhianatan G30S memang merupakan sejarah yang sangat kelam dari bangsa Indonesia. Banyak korban jiwa yang disebabkan oleh tragedi ini. Namun, banyak sisi lain yang dirasa belum semua lini warga Indonesia tahu. Salah satunya adalah Brigjen Ahmad Sukendro yang disebut-sebut sebagai jenderal ke-8 yang seharusnya menjadi target terakhir dari tragedi tersebut. Berikut ini akan diulas bagaimana cara beliau lolos dan kehebatan macam apa yang dimilikinya.
Ahmad Sukendro lahir di Banyumas, 16 November 1923. Sedari muda, dirinya sudah mendaftarkan diri menjadi pengabdi negara. Pertama kali ia masuk ke dalam organisasi PETA. Ia lalu ditemukan oleh Jenderal Nasution dan dimasukkan ke dalam Divisi Siliwangi pada tahun 1950an. Merasa kemampuan Sukendro bisa diandalkan, mulai saat itu ia menjadi tentara kepercayaan Nasution.
Ketika pertama kali ditemukan oleh Jenderal Nasution, ia sudah merasa bahwa Ahmad Sukendro ini bukan perwira biasa. Pada tahun 1950an ia lalu diangkat menjadi Asintel I KSAD di bawah kepemimpinan Jenderal Nasution. Ternyata pekerjaannya memang tidak mengecewakan. Namun, ketika ia menggelar operasi intelijen ternyata sebuah kasus tengah menjerat namanya.
Kedekatan Brigjen Ahmad Sukendro dengan petinggi-pentinggi negara memang tidak main-main. Sebelum dekat dengan Presiden Soekarno, ia sempat berkonflik dengannya hingga diusir dari tanah air. Dibuang ke Amerika Serikat, Sukendro tidak kehilangan akal. Ia memanfaatkan waktunya untuk belajar di Universitas Pittsburgh.
Kemampuan intelijen Brigjen Sukendro ini memang dianggap sebuah aset baik bagi Indonesia maupun negara besar Amerika Serikat. Pada tahun 1963, ketika ia dipercaya oleh Letjen Ahmad Yani untuk memegang posisi yang tidak biasa sebabnya adalah ia telah menghajar dan mempersulit PKI dari bulan Juli hingga September 1960.
Dilansir dari detik.com, Brigjen Ahmad Sukendro memang termasuk dalam Dewan Jenderal atau disebut sebagai brain-trust oleh laporan CIA yang melibatkan sederet nama seperti Jenderal A. H. Nasution, Letjen Ahmad Yani, Mayjen S. Parman, Mayjen Pol. Yasin, dan kawan-kawan. Ia pun digadang-gadang menjadi jenderal ke-8 yang harusnya diciduk PKI dan bakal mengalami nasib naas seperti ke-7 Jenderal lainnya. Namun, nasib baik menghampirinya, ia pun selamat dari peristiwa tragis tersebut.
Begitulah kehebatan dan keberuntungan Brigjen Ahmad Sukendro yang terbebas dari tragedi jahanam tahun 1965. Meski cemerlang, karirnya di milter pun naik turun. Ia juga sempat dipenjara 9 bulan di Rumah Tahanan Militer pada awal masa order baru.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…