Dibandingkan jenis kejahatan lain, begal lah yang paling bikin sakit hati. Bayangin, kita capek-capek nyicil motor sampai ngeden, eh begitu lunas para begal itu mengambilnya begitu saja. Ibaratnya, seperti pelihara ayam jago mulai dari telur, tapi ketika sudah dewasa disembelih bapak buat opor lebaran. Meskipun kita juga ikut makan sih pada akhirnya setelah menangis sesenggukan semalaman.
Begal memang tak diajarkan untuk kasihan dalam job desc mereka, makanya mereka peduli setan dengan korbannya. Malah mereka kebanyakan menyalahkan kita. “Salah lu sendiri lewat jalan sepi, kan gue jadi punya kesempatan,” begitu kata Mat Boneng, salah seorang begal. Kesempatan katanya, apa mereka nggak tahu ya susahnya nyicil motor yang DP-nya pakai uang emak.
Yuk serius dikit, soal begal ini kadang jadi hal yang dilematis banget memang. Di satu sisi mereka kejam nggak karuan (ngincar motor tapi kadang sampai bunuh pemiliknya), tapi di sisi kok kasian banget ya melihatnya tersiksa dalam gelombang gamparan, tonjok, dan tendangan. Tapi, kalau tidak diberi pelajaran, kemungkinan besar mereka akan kembali lagi dan faktanya memang selalu seperti itu.
Kita tinggalkan hal-hal dilematis mengguncang jiwa soal bakar atau tidak si begal, dan ganti membahas kenapa begal selalu ada. Kira-kira kenapa ya? Padahal sudah banyak oknum-oknum begal yang berakhir almarhum tapi dengan cara yang tidak hormat. Alasannya nggak lain adalah kebutuhan dan ekonomi. Di mana-mana kejahatan ya begitu, begal pun sama.
Ibaratkan si begal nggak punya apa pun selain tato di lengan dan leher serta badan gede dikit akibat makan nasi kebanyakan. Nah, kemudian kita hitung berapa pengeluaran yang mereka bayar untuk menyewa motor, pedang, serta helm (biar nggak cedera saat beraksi). Ya kira-kira habis 500 ribu lah (soalnya sewa motor sport yang cc-nya besar). Lalu, kita hitung berapa penghasilan mereka sekali begal.
Menurut laporan nih, para begal selalu menjual motornya dengan harga sekitar Rp 3 juta untuk bebek dan matic serta Rp 5 juta untuk motor sport. Asumsikan si mas begal ini mendapatkan satu motor matic, kira-kira berapa untungnya? Sekitar Rp 2,5 juta. Ini cuma sekali begal lho dan hanya satu motor saja. Bayangkan kalau sehari ada dua. Dalam sebulan gaji mereka mengalahkan PNS golongan IV bahkan bandar lele setempat. Siapa yang nggak ngiler? Mereka pun juga nggak butuh ijazah sarjana untuk itu.
Jadi, apa kesimpulan dari tulisan begal-membegal ini? Soal menghakimi begal sampai mati, hal tersebut kadang tak bisa disalahkan, tapi juga tak bisa dibetulkan. Bagaimana pun, me-massa begal adalah salah karena kita punya polisi. Tapi, di sisi lain bisa dipahami kenapa orang-orang begitu giras menghajar para begal karena ada rasa kekhawatiran tinggi di sana. Nggak dimatiin si begal bakal meresahkan.
Hal yang harus jadi perhatian ya kita sendiri. Berhati-hatilah selalu dan jangan beri kesempatan seperti kata Bang Mat Boneng di atas. Hindari jalan sepi, selalu berkendara dalam grup adalah segelintir dari banyak cara yang bisa kita gunakan untuk menghindari potensi begal. Waspadalah!
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…