Mencari nafkah atau mencukupi kebutuhan hidup sebuah keluarga lumrahnya dilakukan oleh kepala keluarga atau orang tua. Namun bagaimana jika kondisi orang tua dalam keluarga tidak memungkinkan untuk melakukan hal itu? Biasanya sang anak lah yang akan turun tangan membantu mengambil alih peran ini. Hal seperti ini sekarang tentunya sudah banyak kita temukan di lingkungan masyarakat.
Anak-anak yang harusnya menggunakan waktu sehari-harinya untuk bermain seusai belajar, jadi harus bekerja ekstra demi keluarganya. Dan berikut ini ada lima kisah anak-anak usia sekolah dasar yang sudah dikenal gigih bekerja untuk keluarganya.
Di depan sebuah minimarket daerah Mojokerto, Jawa Timur masyarakat mungkin sudah tak asing lagi dengan sosok anak laki-laki bersepeda yang membawa sekeranjang kue basah. Anak bernama Dimas itu selalu menjajakan kuenya di tempat yang sama sepulang sekolah. Kue basah yang dia jual diberi harga sekitar Rp 3 ribu dan untuk satu hari biasanya siswa SD itu bisa membawa pulang uang sebesar Rp 60 ribu sampai Rp 100 ribu.
Bila Dimas menjajakan dagangannya setiap pulang sekolah, hal itu berbeda dengan Siti Faisah. Siti yang merupakan salah satu siswa SDN Cobbuk Desa Curah Tatal, Situbondo, Jawa Timur ini sehari-hari membawa dagangannya ke sekolah untuk dijual di kalangan kawan-kawannya. Siti memilih untuk berjualan makanan ringan yang memang disukai oleh teman-temannya.
Bintang, seorang siswa SDN 07 Semanai, Kalimantan yang sehari-harinya menjajakan dagangannya di sepanjang perjalanan menuju sekolah. Anak ini harus menempuh perjalanan sejauh 7 km setiap harinya agar bisa bersekolah. Dalam perjalanan itu Bintang memanfaatkan waktunya untuk menjual kue molen yang diberi harga Rp.1000.
Baru-baru ini pengguna instagram juga dihebohkan dengan gambar seorang anak usia SD mengenakan seragam pramuka yang tengah tertidur di dekat kardus berisi makanan ringan. Anak yang diketahui bernama Abil itu sehari-harinya berjualan di sekitar Unverstas Indrapasta PGRI (UNINDRA), Jakarta.
Bila empat anak di atas masih beruntung bisa melanjutkan sekolah, hal berbeda di alami Roin. Anak ini sehari-harinya memutuskan untuk berjualan siomay bakar lantaran keluarganya tidak memiliki cukup biaya untuk hidup sehari-hari. Roin terlahir di keluarga yang kurang mampu dan akhirnya dia harus berhenti bersekolah di kelas 4 SD.
“Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu.” Miris memang bila harus melihat fakta bahwa di sekitar kita ada banyak sekali anak-anak yang harusnya mendapatkan pengalaman masa kecil bersama teman-teman namun harus berjibaku dengan tanggung jawab lain. Sebenarnya hal ini juga memiliki sisi positif di mana anak-anak ini sudah bisa banyak belajar tentang hidup sejak dini. Semoga saja tidak semakin banyak anak yang harus mengalami hal ini di luar sana.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…