Sejak dulu hubungan antara Indonesia dan Amerika selalu baik, bahkan sangat baik. Entah itu ditunjukkan lewat persahabatan Kennedy dan Bung Karno, atau soal begitu entengnya pemerintah memberikan emas-emas di Papua. Intinya, kita tak pernah ada masalah dengan Amerika. Tapi, kalau kita berkaca lebih ke belakang lagi, ternyata Indonesia pernah bermusuhan dengan mereka. Bermusuhan dalam hal ini adalah yang sampai melibatkan peperangan.
Ya, di sekitar tahun 1832, Amerika ternyata pernah menyerang salah satu daerah Indonesia, yakni Aceh. Latar belakangnya sendiri adalah masalah percekcokan soal perdagangan dan akhirnya pecah menjadi perang yang cukup besar dan berdarah. Amerika menang kala itu dan berhasil membuat sebagian masyarakat Aceh menderita. Soal perang satu ini tak banyak yang tahu, padahal cukup penting pula sebagai catatan sejarah bagaimana hubungan kita dengan AS di masa lalu.
Lalu, kenapa pertumpahan darah ini bisa terjadi dan bagaimana jalannya pertempuran tersebut? Semua jawaban dari pertanyaan tersebut bisa kamu temukan lewat ulasan berikut.
Abad ke 18 adalah masa di mana pelayaran dengan tujuan perdagangan tengah gencar-gencarnya bergulir. Amerika sebagai negara besar pun ikut andil dalam kegiatan ini. Bahkan mereka sudah berlayar sampai Aceh dan telah terbiasa menurunkan jangkar di pelabuhan Kuala Batu, Aceh, untuk mengangkut lada. Selama ini aksi dagang mereka di sini selalu lancar. Namun pada bulan Februari tahun 1831, nasib mereka rupanya tengah sial.
Dalam pelariannya, Kapten Endicott berhasil sampai ke Muki dan meminta para kapten dari tiga kapal AS lainnya untuk membantu merebut Friendship. Tanpa banyak kata aksi ini berhasil. Friendship berhasil diambil alih namun sayangnya barang-barang yang ada di dalamnya ludes tak berbekas. Mengetahui ini mereka pun marah besar dan melayangkan protes.
Presiden kala itu mengirim satu kapal perang bernama Potomac yang mengangkut sekitar 300 prajurit. Tindakan ini adalah sebagai aksi respon atas penyerangan terhadap kapal Friendship. Butuh beberapa lama hingga akhirnya di tanggal 5 Februari 1832, kapal perang ini berlabuh di Kuala Batu.
Kaget dengan serangan tiba-tiba ini, masyarakat Kuala Batu pun tak sempat melawan. Mereka rata-rata tewas dengan mengenaskan. Kalau bicara jumlah korban, setidaknya ada sekitar 450an orang warga yang tewas ketika itu. Termasuk wanita dan anak-anak. AS sendiri hanya kehilangan dua orang tentara saja.
Hal yang paling jadi pertanyaan dalam tragedi ini adalah alasan kenapa penduduk menyerang kapal Friendship. Kalau menurut Robert Booth dalam bukunya, Death of an Empire, rakyat Aceh ketika itu muak dengan cara berdagang orang Amerika. Mereka diketahui suka mencurangi timbangan.
Kalau dilihat dari tragedinya sendiri tentu ini adalah kejadian yang mengerikan. Tapi, kalau melihat geliat perdagangan di Kuala Batu, kita bisa bangga karena sejak masa lalu Indonesia sudah jadi pos-pos internasional untuk perdagangan. Intinya, keberadaan Indonesia dulu begitu penting bagi perekonomian dunia. Sayangnya, kejadian di atas mungkin jadi noktah dari prestasi tersebut.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…