Anies Baswedan kini tengah meretas jalan untuk menjadi orang nomor satu di DKI Jakarta. Berpasangan dengan Sandiaga Uno, Anies bersaing ketat dengan dua pasangan lainnya yakni Agus Harimurti-Sylvia Murni dan Ahok-Djarot berebut tiket ke Balai Kota Jakarta.
Sebelum maju sebagai calon Gubernur yang diusung Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Anies pernah menjadi Menteri Pendidikan Nasional di kabinet Kerja Jokowi-Jusuf Kalla. Tapi pada 27 Juli 2016, Anies kena reshuffle. Posisinya kini digantikan oleh Muhadjir, mantan Rektor Muhammadiyah. Sekarang penggagas Indonesia Mengajar itu tengah meretas asa, mencoba peruntungan politiknya di pemilihan gubernur di Jakarta. Dengan seabrek pengalaman serta kiprahnya, Anies sebenarnya calon potensial memimpin ibukota. Apalagi bila di tambah dengan jejak sejarah keluarganya, Anies bisa dikatakan bukanlah orang biasa saja.
Sikap serta kepintaran Anies tak lepas dari latar belakang keluarganya. Salah satu yang banyak mempengaruhi Anies adalah sang kakek, Abdurrahman Baswedan atau dikenal dengan panggilan AR Baswedan. Ya, kakek Anies ternyata bukanlah orang sembarang. Kakeknya adalah tokoh yang banyak berjasa bagi republik ini.
Sebelum Indonesia merdeka, Baswedan telah menorehkan jejaknya dalam sejarah republik. Dia pernah tercatat sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha dan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), sebuah badan yang dibentuk di era Jepang, menjelang Indonesia merdeka.
Jejak politiknya juga berderet. Baswedan pernah tercatat sebagai Anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP) dan Anggota Parlemen dan Anggota Dewan Konstituante. Dan pasca kemerdekaan, Baswedan sempat masuk kabinet. Ia jadi Wakil Menteri Muda Penerangan pada Kabinet Perdana Menteri Sjahrir.
Baswedan juga jago lobi. Ia piawai berdiplomasi. Saat jadi diplomat, Baswedanlah yang sukses meyakinkan Mesir, hingga negara tersebut mengaku secara de facto kemerdekaan Indonesia. Sebagai keturunan Arab, tentu memudahkan Baswedan dalam berkomunikasi dengan negara-negara di Timur Tengah.
Lebih jauh, di artikel itu pula Baswedan mengatakan tentang perlunya peranakan Arab membuat satu partai. Itulah awal mula ide didirikannya Partai Arab Indonesia (PAI). Ide itu pun terus bergulir, hingga kemudian digelar konferesi keturunan Arab di Semarang.
Kawan-kawan senimannya banyak. Seniman seperti Arifin C. Noer, Abdurrahman Saleh, Taufiq Effendi, Chaerul Umam, bahkan Rendra, berkawan akrab dengannya. Saat Rendra hendak mementaskan lakon Kasidah Barzanji, Baswedan yang membantunya.
Ada kisah menarik lainnya tentang Baswedan. Pada 16 Maret 1986, Baswedan meninggal dunia dalam usia 77 tahun. Nah, sebelum meninggal Baswedan berwasiat, ia tak mau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Ia ingin ‘beristirahat’ di dekat para pejuang yang dimakamkan di Tanah Kusir. Di TPU Tanah Kusirlah kemudian Baswedan di makamkan, sesuai wasiatnya.
Nah, saat Baswedan sakit keras, ada kisah menarik. Informasi sakitnya Baswedan pun menyebar kemana-mana. Salah satu yang kaget dengan kabar sakitnya Baswedan adalah Romo Dick Hartoko. Ketika itu, Romo Dick akan memimpin misa di Gereja Katolik Baru, sebuah gereja tua di Yogyakarta. Sesaat misa digelar, Romo Dick mendengar kabar Baswedan sedang sakit. Ia pun dengan spontan meminta para jemaah yang hadir di acara misa mendoakan Baswedan agar cepat sembuh. Ya, Baswedan memang bukan tokoh Islam dan Arab yang ekslusif. Ia berkawan karib dengan siapa saja, tanpa memandang agama dan latar belakang suku. Dengan Romo Dick, ia cukup karib.
Jejak Baswedan di dunia jurnalistik pun menarik untuk dikisahkan. Ia belajar jurnalistik dari seorang keturunan Tionghoa, Liem Koen Hian, pemimpin dan pendiri koran Sin Tit Po. Bahkan di harian itu pula Baswedan merintis karir jurnalistiknya sebagai penulis dan wartawan. Selain di harian Sin Tit Po, Baswedan juga pernah berkarir di harian Matahari.
Kisah menarik lainnya tentang Baswedan adalah saat ia ditangkap Kempetai, polisi rahasia Jepang yang terkenal kejam. Dia divonis hukuman mati. Pagi hari, Baswedan bersama tawanan lain dijemur di pekarangan markas polisi Jepang tersebut. Untung saja, ketika itu muncul Mr Singgih anggota Pusat Tenaga Rakyat. Mr. Singgih kaget melihat Baswedan ditawan. Ia pun minta Baswedan dibebaskan dengan alasan dia adalah anak buahnya. Oleh polisi Jepang, Baswedan pun akhirnya dibebaskan.
Sang cucu, Anies Baswedan punya kenangan manis bersama sang kakek. Salah satu kenangan manisnya itu adalah saat Anies masih sekolah di sekolah dasar. Anies masih ingat, saat itu ia masih kelas V SD. Oleh sang kakek, Anies sering dapat tugas mengetik tulisan. Sang kakek yang mendiktekan, Anies yang mengetiknya.
” Dia selalu mendikte, dan saya yang mengetik. Lalu, saya pula yang mengirim ke kantor pos,” kata Anies mengenang sang kakek seperti dikutip Kompas.com.
Bagi Anies, sang kakek adalah sosok yang melampui zaman. Ide, gagasan, serta sikapnya mencerminkan semangat kebangsaan yang kental. Dan ada kalimat sang kakek yang sampai sekarang terpatri di ingatannya. Sang kakek pernah mengatakan bahwa nasionalisme bukan karena darah, melainkan karena pendidikan. Nasionalisme sebuah pilihan. Nasionalisme adalah keyakinan yang dibangun lewat pendidikan. Kalimat itulah yang menginspirasi dirinya untuk terjun ke dunia pendidikan.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…