Sepintas dari namanya kita tak menyangka kalau Terry Mart adalah orang Indonesia tulen. Namun, anak ketiga dari enam bersaudara ini lahir di Palembang tanggal 3 Maret 1965. Meski namanya kebulean tapi ia adalah orang Indonesia asli. Ia merupakan seorang ilmuwan dan sampai tahun 2011 saja telah terhitung sudah ada sekitar 100 paper di jurnal dan prosiding internasional yang dipublikasikannya.
Ayah dari dua putri, Nadhifa Zahira Ramadhani Mart dan Adelita Putri Mart ini punya kisah perjalanan dan perjuangan luar biasa menapaki dunia sains. Agus Purwanto, D.Sc. dalam bukunya Nalar Ayat-Ayat Semesta menuliskan rangkuman kisah hidup Terry Mart yang sangat inspiratif. Seperti apa kisahnya? Yuk, langsung kita ikuti kisahnya di bawah ini.
Terry lahir di keluarga yang sederhana. Ayahnya seorang guru SMA sementar ibunya merupakan seorang ibu rumah tangga. Beruntung ayah Terry sempat mengenyam pendidikan di Australia. Pandangannya pun bisa dibilang cukup maju kala itu dan menjadi salah satu kunci keberhasilan Terry serta saudara-saudaranya dalam mengenyam pendidikan yang tinggi.
Terry punya akses yang lebih luas akan bahan bacaan ketika ayahnya ditunjuk sebagai kepala perpustakaan sekolah. Ia bebas membaca buku-buku yang ada. Dan buku yang dibaca tak hanya soal rangkaian elektronika tapi juga buku-buku fiksi seperti karangan Karl May, Mark Twain, Marah Rusli, dan Hamka. Menarik sekali ya bahan bacaanya saat remaja dulu.
Atas saran sang ayah, Terry akhirnya masuk menjadi mahasiswa Jurusan Fisika FMIPA UI tahun 1983. Jalani dulu satu tahun baru nanti putuskan ingin lanjut atau tidak, begitu saran sang ayah. Tak disangka, Terry kemudian jatuh cinta pada fisika. Ia pun lulus dengan predikat cum laude dari Jurusan Fisika UI tahun 1988. Dan untuk pertama kalinya ia bisa menghaidiri Simposium Fisika Nasional di Yogyakarta. Dari situ ia mulai berkenalan dengan para pakar fisika partikel dan nuklir Indonesia. Suasana yang menyenangkan dan menarik dalam diskusi dan perdebatan sungguh menginspirasi Terry.
Sudah banyak penghargaan yang diperolah Terry. Mulai dari Habibie Award (2001), Leading Scientist (2008) dari Comstech, Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa (2009) dari Kemdiknas, Excellent Scientist (2009) dari ASEAN-EU Network, hingga Ganesha Widya Jasa Adiutama (2009) dari ITB. Sampai tahun 2011 saja, tercatat sudah ada sekitar 100 paper di jurnal dan prosiding internasional yang ia publikasikan. Ia pun sudah menjadi visiting researcher di Jepang, Jerman, Amerika, Korea, dan Afrika Selatan lebih dari 20 kali. Sedikitnya sudah 40 kali ia menghadiri konferensi internasional.
Tahun 2010 saat buku terbari Stephen Hawking terbit, The Grand Design, dunia dibuat geger. Pasalnya Hawking seolah menolak peran serta eksistensi Tuhan. Fenomena tersebut ditanggapi Terry dari sudut pandang yang menarik. Menurut pandangannya, penyebab banyak sekali ilmuwan jadi ateis adalah karena mekanisme sains yang reduksionis dan mengharuskan penjelasan penciptaan alam semesta melalui proses-proses ilmiah yang dapat diterangkan dengan logika. Seperi itulah mekanisme di dunia sains. Akan tetapi, menurut Terry, sains tidak dapat menolak keberadaan Tuhan.
Ambil contoh teori The Big Bang, teori penciptaan alam semesta yang dianut para kosmolog hingga detik ini. Walaupun teori The Big Bang memaparkan soal proses-proses penciptaan materi hingga ke galaksi, teori ini tak bisa menjelaskan kenapa harus terjadi Big Bang. Pada waktu penciptaan (t = 0 detik) terjadi singularitas, kerapatan massa dan temperatur bernilai tak terhingga. Untuk urusan tak tertingga, menurut Terry, para matematikawan angkat tangan. Para fisikawan pun tak berkutik karena bahasa fisika adalah matematika. Lalu apa kesimpulannya? Solusi kesimpulannya adalah bahwa inilah hukum alam dan Tuhan lah yang menciptakan semua. Tugas manusia tak lain adalah berusaha sebaik mungkin untuk mengerti firman-Nya lewat hukum-hukum alam yang bisa diamati.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…