Kita lebih susah kalau ketinggalan gadget dari pada dompet, benar kan? Tanpa dompet kita bisa pinjam uang sana sini, tapi kalau nggak ada smartphone atau tablet di tangan maka mati kutu deh rasanya. Yup, keberadaan benda satu ini memang lebih dari apa pun. Alasannya sendiri tentu saja kita bisa melakukan apa pun hanya dengan mengetuk-ngetuk layarnya. Mulai dari bersosialisasi, menonton film, pacaran bahkan jualan sekalipun.
Sayangnya, keberadaan gadget sendiri justru makin memudarkan banyak hal-hal asyik yang dulu sering kita lakukan. Misalnya kita bisa bercanda riang tanpa perlu sibuk untuk mengecek siapa yang like dan komen status kita. Sebelum ada gadget kita juga stalking calon gebetan dengan cara yang asyik sekali lewat teman ke teman. Hal-hal tersebut sudah jarang lagi kita lakukan gara-gara dominasi gadget yang sedemikian kuat itu.
Alasan kenapa hidup kita makin garing adalah justru karena keberadaan benda satu ini. Sayangnya, teknologi memang kadang menghilangkan hal-hal tradisional yang asyik. Nah, simpan sejenak gadget kalian dan ingat kembali betapa asyiknya melakukan hal-hal ini.
Zaman SD sampai SMP dulu, surat menyurat adalah alat komunikasi paling seru. Lewat tulisan kita bisa menyampaikan apa pun lebih asyik dan dalam, entah itu minta maaf, ngajak pulang bareng, atau bahkan menyatakan cinta. Sensasi menulisnya sendiri juga beda dibandingkan nulis essay bahasa Indonesia yang panjang itu. Belum lagi ketika menerima surat itu rasanya sangat menyenangkan meskipun isinya penolakan.
“Guys, nanti ketemuan yuk. Jam 8 di kafe biasanya.” Tapi, ketemu malah sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Hingga akhirnya muncul jargon kalau gadget menjauhkan yang dekat. Ya, alih-alih ngobrol ngalor ngidul tapi seru, gara-gara gadget fokus kita bersama teman-teman jadi pecah. Sekarang acara ketemuan pun pasti bisa ditebak apa yang terjadi nantinya.
PDKT di zaman sekarang sangat mudah dan tak ada seru-serunya. Cukup PING!! Atau chat sudah jadi. Dulu, banyak hal yang harus dilakukan agar cewek atau cowok incaran tahu jika kita ada rasa. Ya, caranya dengan saling titip salam. “Udah lo sampaikan salam gue?” “Udah, katanya jangan deket-deket lagi.” Ya, kadang berakhir nggak baik, tapi asyik banget melakukan hal ini.
Saling rangkul lalu bercanda untuk terakhir kalinya dan melepas kepergian seseorang dengan air mata yang mengalir di pipi mungkin jadi pemandangan yang jarang sekali. Ya, lantaran gadget kita bisa melakukan komunikasi intens seperti jarak yang terpaut tidaklah jauh. Alhasil, perpisahan ya gitu-gitu saja, nggak ada sensasi haru dan kehilangannya.
Nasib Wartel atau warung telepon kini sudah seperti benda usang yang tak berguna lagi. Padahal di masa jayanya dulu, Wartel adalah sarana andalan kita untuk melepas rindu atau merasakan cinta lewat sekadar bertanya “sudah makan belum?” kepada cinta monyet kita. Nilai komunikasi begitu berharga kala itu.
Dulu, zaman SD atau SMP kita mengenal yang namanya binder. Ini adalah semacam buku yang bisa diisi ulang. Fungsinya sendiri hanya sebagai media corat coret saja, di samping sebagai buku biografi dari teman-teman. Masih ingat kah dulu saat meminta teman se kelas bertukar kertas binder yang diisi biodata? Bikin kangen rasanya.
Meskipun tak ada gadget, dulu kita bisa bisa conference dengan teman sekelas. Ya, caranya lewat kertas kecil yang cara ngirimnya dengan dilempar dari satu tempat ke tempat lain. Hal apa pun jadi sangat seru ketika tertulis di lembaran kertas tersebut. Janjian pulang sekolah ke mana, mau beli apa pas istirahat, sampai ngobrolin gosip yang lagi hot di sekolah.
Radio masih eksis hingga sampai saat ini. Bahkan masih didengarkan oleh para pendengar setianya. Namun keberadaan gadget membuatnya jadi makin samar hingga akhirnya hilang bagi sebagian orang. Bagi kita dulu, radio adalah alat untuk bersenang-senang. Tak hanya dengan mendengarkan musik saja, tapi juga berkirim salam. Pernah melakukan ini? Masa kecilmu keren!
Timeline Twitter dan Facebook jadi media orang-orang sekarang untuk menceritakan keluh kesahnya. Tidak ada yang salah sih, tapi aneh saja ketika hal-hal yang sebenarnya tidak perlu jadi konsumsi publik malah disebarluaskan begitu. Kembali ke zaman gadget masih angan-angan, kita lebih sering bercerita keluh kesah kepada orang-orang tertentu atau lewat diary.
Menyatakan cinta memang jadi hal yang sangat seru dan bikin deg degan. Apalagi ketika mengatakannya langsung, meskipun kaki bergetar dan nafas tersengal. Belum lagi kalau nantinya ditolak dan siap-siap menunjukkan muka sok tegar padahal hati menangis. Ya, cinta memang butuh usaha dan pengorbanan semacam ini. Walaupun begitu momen menyatakan cinta secara langsung ini akan selalu jadi kenangan indah.
Gadget memang mempermudah kita untuk melakukan apa pun. Namun, sayangnya kita menggunakan mereka dengan porsi yang berlebihan akhirnya malah membuat hal-hal yang seru itu tergantikan. Teknologi semakin maju bukan berarti kita menghilangkan hal-hal penting dalam hidup. Jika dibandingkan sekarang, jujur masa-masa tanpa gadget dulu lebih seru dan menyenangkan.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…