Minggu ini tahun ajaran baru dimulai. Tidak hanya murid dan guru, orang tua juga sibuk dengan persiapan menyambut kelas baru yang akan dimasuki sang buah hati. Tidak hanya mempersiapkan dana untuk pendidikan yang lebih lanjut, para orang tua juga terkadang direpotkan oleh permintaan yang aneh-aneh soal persiapan MOS.
Belakangan ini netizen ramai-ramai membahas tentang pro dan kontra penyelenggaraan MOS di Indonesia. Sebagian dari masyarakat menganggap bahwa Masa Orientasi Siswa (MOS) adalah hal konyol yang tidak perlu dilaksanakan. Sementara sebagian lainnya berpendapat bahwa kegiatan ini bertujuan untuk melatih mental dan membuat siswa akrab dengan lingkungan sekolah. Berikut ini Boombastis akan membahas seputar kontroversi MOS di Indonesia.
Hal paling lumrah yang dilakukan dalam sebuah MOS adalah mendandani para peserta dengan pernak-pernik yang tidak biasa. Ada yang disuruh mengikat rambut dengan ikatan yang sama dengan jumlah tanggal lahir. Ada yang disuruh mengempeng layaknya bayi. Ada yang memakai topi yang terbuat dari tempat sampah. Bahkan ada yang harus memakai baju dari koran dengan kaus kaki yang berbeda warna di kiri dan kanan.
Kita sudah sering mendengar bahwa MOS menjadi ajang bagi para senior untuk berbuat semaunya kepada para junior. Mereka merasa punya hak untuk membentak dan mempermalukan sang junior yang baru pertama masuk ke lingkungan sekolah. Tak jarang, mereka memberi tugas-tugas aneh kepada junior seperti mencari lima jenis semut yang berbeda di lingkungan sekolah.
Tidak sedikit MOS yang dilakukan di luar sekolah. Istilah ini juga tenar dengan sebutan ‘pengkukuhan’. Banyak sekolah yang menyisakan satu dari beberapa hari MOS mereka untuk berkemah di luar sekolah. Hal ini memang membangun rasa kekeluargaan antar murid di sekolah. Namun tidak jarang pula para senior semakin bersemangat ‘mengerjai’ adik kelas mereka di luar lingkungan sekolah.
Seorang WNI yang tinggal di Singapura pernah mengatakan bahwa MOS di Indonesia sangat berbeda dengan MOS di negara tetangga tersebut. Menurutnya, para siswa dan mahasiswa baru di Singapura diberi tugas untuk membersihkan toilet umum di stasiun sebagai bakti mereka kepada masyarakat. Mereka juga diberi kesempatan untuk mendirikan proyek kerja bakti lain. Grup yang punya ide kerja bakti paling bagus akan mendapat reward khusus dari sekolah atau universitas.
MOS sudah menjadi tradisi yang menahun. Setiap murid baru seolah tahu dia akan dikerjai dan telah mempersiapkan diri. Para orang tua yang awalnya heran dan keberatan, akhirnya menerima MOS sebagai perubahan zaman yang berusaha mereka pahami. Masyarakatpun mulai maklum dan cuek-cuek saja akan fenomena ini.
Kita tentu saja ingin anak bangsa ini menjadi pribadi kuat yang bermental kokoh. Namun, benarkah hal itu bisa didapat lewat MOS? Bukankah tantangan sebenarnya harus mereka jalani saat mereka sudah memulai pelajaran?
Bagaimana menurut Anda? Apakah MOS adalah hal yang layak untuk dipertahankan dan diteruskan? Atau kita hentikan sampai di sini dan mulai merancang perkenalan sekolah yang lebih layak? (HLH)
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…