Tinggal sehari lagi sebagian masyarakat di Indonesia akan berkesempatan untuk memperbaiki nasibnya. Ya, lewat pemilihan kepala daerah tentu saja, yang mereka sudah memberikan banyak janji-janji dan mudah-mudahan tak berakhir jadi pepesan kosong saja. Menilik fenomena pemilihan kepala daerah ini, ternyata yang di-highlight tidak hanya tentang para calon dan program-programnya saja. Tapi, juga keanehan yang mengiringi prosesnya.
Salah satunya yang paling ikonik sehubungan dengan perhelatan ini adalah fenomena serangan fajar. Pagi-pagi buta, tiba-tiba saja sudah ada macam-macam sembako di depan pintu rumah. Tapi ada juga tulisan di sana yang intinya himbauan untuk memilih salah satu calon yang akan maju di pilkada. Hal ini tentu saja dilarang, tapi dalam praktiknya masih ada.
Tak hanya itu saja, masih ada banyak keanehan pilkada yang sepertinya hanya ada di Indonesia. Berikut ulasannya.
Suara rakyat tak bisa dibeli, tapi bisa dinego. Mungkin begitu pedoman beberapa oknum yang suka menyogok masyarakat untuk memilih pasangan kepala daerah tertentu. Jujur saja, kebanyakan orang memang masih bisa dibeli. Tapi kini mereka cerdas, tak mau hak pilihnya ditebus dengan harga murah. Setidaknya si oknum butuh jutaan untuk membeli banyak suara yang masing-masing kadang dihargai Rp 100 ribu.
Ada begitu banyak cara para calon terpilih ini untuk mendapatkan simpati masyarakat. Salah satunya dengan mengundang artis untuk menyemarakkan kampanye mereka. Cara ini sering dipakai oleh banyak calon dan sepertinya berhasil membuat nama mereka lebih dikenal luas oleh orang-orang sekitar.
Sudah jadi agenda wajib bagi para calon kepala daerah tersebut untuk mempromosikan dirinya. Caranya selain lewat kampanye tadi adalah dengan memberikan souvenir-souvenir. Ada banyak jenisnya, mulai dari kalender, mug, buku yasin, pin, sampai stiker yang harganya tak sampai Rp 2 ribu per buahnya. Semuanya pasti menampilkan atribut si calon.
Masyarakat kita termasuk para calon ini, sebagian masih percaya dengan yang namanya klenik dan semacamnya. Hal tersebut kemudian direalisasikan dengan cara melakukan ritual-ritual agar nantinya bisa mendapatkan berkah dan juga kemenangan. Hal ini memang benar dilakukan. Di pemilu tahun lalu, beberapa orang tertangkap kamera tengah melakukan ritual unik jelang pemilihan.
Lima menit untuk lima tahun ke depan, jadi pastikan untuk mempergunakan hak pilih dengan baik. Kalau malas, mungkin bisa berinisiatif dengan menghias TPS. Ya, cara ini kadang ampuh sebagai penarik perhatian masyarakat setempat untuk datang dan memilih. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh warga kelurahan Harjamukti, Depok.
Namanya juga manusia, luput kadang menghampiri meskipun fokusnya sudah luar biasa. Bahkan dalam gelaran akbar seperti ini hal tersebut juga terjadi. Salah satu contohnya misalnya salah cetak surat suara. Padahal jumlah calon terpilihnya ada sekian, tapi yang tercetak justru kurang dari itu, serta masih banyak teknis salah cetak lainnya. Bukan konspirasi kok, ini memang seringkali kesalahan tukang cetaknya.
Besok akan jadi penentuan bagi banyak daerah di Indonesia. Masyarakat harus bijak memilih calon yang potensial dan terbaik, sehingga membawa kemaslahatan. Terlepas dari hal unik di atas, pesta demokrasi satu ini harus menjadi langkah baru dalam perubahan yang lebih baik. Jangan golput ya, suara kita akan turut memengaruhi nasib banyak orang.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…