Menunaikan ibadah ke tanah suci Makkah atau lebih dikenal dengan ‘naik haji’ adalah hal yang diinginkan setiap orang. Siapa sih yang tidak mau melaksanakan rukun iman terakhir ini? Semua orang pasti ingin ke sana. Di sisi lain naik haji bukanlah perkara mudah, mengingat hanya dilaksanakan pada musim tertentu dengan biaya yang tidak sedikit. Tidak jarang, jama’ah haji kadang hanya disesaki mereka yang punya banyak tumpukan uang.
Dari sekian banyak yang ingin pergi ‘naik haji’ ada mereka yang ternyata telah berjuang mati-matian demi mewujudkan impian. Mereka menyisihkan rupiah sedikit demi sedikit karena memang tidak punya materi berlebih, kisah mereka tentu menggetarkan hati dan bikin mata sembab. Seperti yang dirangkum dalam 5 kisah penuh perjuangan ini!
Kamu bisa membayangkan bagaimana rasanya mengumpulkan uang selama 60 tahun lamanya? Ya, itulah yang dilakukan oleh kakek Ambari, seorang buruh tani sekaligus pejuang dari zaman penjajahan. Terinspirasi dari sang ayah, kakek Ambaripun mulai menabung sejak usianya 30 tahun. Ia mengumpulkan koin dari hasil panen ke dalam sebuah kaleng biskuit.
Inspirasi bisa datang dari orang yang berada di sekeliling kita, begitulah yang dituturkan ketua MPR, Zulkifli Hasan. Salut dengan perjuangan tukang tambal ban yang menabung demi hajikan ibu, ia mendatangi langsung rumah bapak Ismail di Banjarmasin. Pak Ismail mengaku ia butuh waktu lama untuk akhirnya bisa memberi hadiah haji kepada sang ibu, mengingat tambal ban adalah pekerjaan dengan penghasilan sangat kecil.
Tak kalah membuat mata berair, kisah ini dari seorang tukang parkir di Yogyakarta, pak Bardi namanya. Berniat haji sejak tahun 1985 tapi apalah daya, hal tersebut tidak didukung oleh materi yang cukup, belum lagi ia harus menyekolahkan kedua anaknya. Tidak putus harapan, ia berjuang dari menjual rokok, koran, membuka warung lotek di pinggir jalan, hingga menjadi tukang parkir. Dari uang tersebut, ia menabung sedikit demi sedikit.
Zaman sekarang mungkin orang harus berfikir dua kali untuk menjadi tukang sapu, apalagi dengan gaji yang sangat minim. Berbeda dengan pak Mulyono, warga Desa Rejoagung, Tulungagung, yang sudah 30 tahun menjadi tukang sapu di masjid jami Al-Munawar,Tulungagung. Ia punya mimpi ingin sekali bisa melihat ka’bah dan menapakkan kaki di tanah suci. Tapi keinginan tersebut serasa hanya mimpi, mengingat gaji sebagai tukang sapu hanyalah 300 ribu perbulan.
Ekspresi bahagia jelas sekali terpancar dari wajah Kami Alukariman Warsidi, warga kabupaten Gresik, Jawa Timur. Betapa tidak, usaha menabung hasil menjual rujak selama 15 tahun terbayar sudah dengan tiket haji ke tanah suci. Dilansir dari Viva.co, Perjuangan dalam mencapai impian haji sangatlah berat, ia harus menyekolahkan 4 orang anaknya sendiri sejak suaminya meninggal pada 1995.
Semua kisah di atas berawal dari optimis, kerja keras dan usaha tanpa kenal putus asa. Perjuangan mereka patut dicontoh dan dijadikan pelajaran. Kisah penuh inspirasi tersebut menjadi bukti bahwa jika bersungguh-sungguh hal yang mustahil terjadi sekalipun bisa diwujudkan.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…