Memperjualbelikan organ tubuh manusia bukanlah hal yang dibenarkan. Apalagi jika sampai melakukan perampasan dan mengambil paksa organ tubuh sesorang. Jika kejahatan terbesar di dunia adalah kejahatan perang, maka perampasan organ tubuh dan memperdagangkannya adalah kejahatan kedua terbesar setelah kejahatan perang.
Tindakan ini masih menjadi masalah serius di berbagai negara di dunia. Meski sudah dianggap sebagai tindakan ilegal dan merupakan tindakan kriminal besar, di 8 negara ini organ tubuh manusia ternyata masih diperjualbelikan.
Moldova tidak hanya bermasalah dengan kemiskinan dan prostitusi, negara ini ternyata juga menjadi salah satu negara dengan tindakan pencurian organ tubuh terbanyak. Meskipun pemerintahnya sudah memberlakukan larangan perdagangan organ, namun ternyata kegiatan ini tetap berjalan dan bahkan banyak yang percaya bahwa pemerintah terlibat dalam perdagangan ini.
Tiongkok tidak sama seperti negara lainnya, pasalnya di negara ini mengambil organ manusia tidak dilarang. Jika seseorang sekarat dan membutuhkan ginjal, tinggal terbang ke China dan tunggu di rumah sakit dan ginjal yang baru akan datang siap untuk operasi.
Mesir saat ini belum memiliki hukum untuk mencegah perdagangan organ. Bahkan sejauh ini telah ada 500 transplantasi ginjal ilegal setiap tahunnya. Mesir memiliki tingkat kemiskinan yang cukup tinggi, dan di mana ada kemiskinan, di situ pula ada makelar penjualan organ.
Sindikat perdagangan organ sudah berjalan di India selama bertahun-tahun. Tahun 2004, muncul skandal bahwa organisasi pemerintah yang bertugas untuk mencegah perdagangan organ tubuh manusia malah bekerja sama dengan sindikat tersebut dalam penjualan ginjal. Mereka percaya bahwa dengan cara ini mereka bisa menyelamatkan nyawa dan lebih baik bekerja sama dengan sindikat tersebut daripada melawan mereka.
Mozambik diyakini sebagai negara paling utama tempat perdagangan organ tumbuh subur. Di sini, organ yang paling banyak dijual adalah ginjal untuk transplantasi dan dalam beberapa kasus tertentu untuk ritual mistis.
Kosovo dikenal sebagai tempat perdagangan manusia dan pencurian organ. Tahun 1999 setelah terjadinya perang Kosovo, bukti baru mengatakan bahwa pasukan pembebasan Kosovo menculik 400 warga Kosovo terutama Serbia dan mengambil organ para warga tersebut sebelum membunuh mereka.
Pakistan memiliki angka kemiskinan yang begitu tinggi. Kebanyakan orang kesulitan mendapatkan uang, apalagi untuk membayar hutang. Satu-satunya aset berharga mereka adalah ginjal yang dihargai sekitar 3 ribu dollar. Tahun 1994, Pakistan memberlakukan peraturan berkaitan dengan transplantasi organ tubuh manusia.
Hingga saat ini, kemiskinan masih menjadi salah satu faktor terjadinya perdagangan organ. Di beberapa negara miskin, orang menjual organ tubuh mereka demi uang sejumlah 6 ribu hingga 10 ribu dollar. Bagi masyarakat miskin, angka ini tentu sangat menggiurkan. Sementara itu, para tengkulak mampu menjual organ tubuh tersebut hingga 100 ribu dollar. Tingginya angka ini pula yang membuat munculnya sindikat perdagangan organ yang tentu saja adalah hal ilegal.
Manusia memang masih bisa hidup dengan satu ginjal, namun itu berarti ginjal yang tersisa harus bekerja lebih keras. Jangan sampai kemiskinan menjadi alasan bagi seseorang untuk memperdagangkan organ dan akhirnya merugikan diri sendiri. Belum lagi dengan resiko proses operasi yang tidak steril karena menggunakan perlengkapan yang tidak memadai.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…