Mendengar kata pedang, kita pasti akan langsung menyebut pedang besar Excalibur milik Arthur atau katana dari Jepang sebagai pedang yang paling unggul, paling kuat, hingga paling tajam. Tak mengherankan, sebab gelombang film atau serial tv besutan Hollywood yang kerap kita tonton selalu menampilkan pedang-pedang terkenal itu.
Namun, menurut sebuah studi yang dipelopori oleh Peter Paufler bersama koleganya dari sebuah universitas asal Jerman, mengungkapkan bahwa katana atau pedang besar tersebut bukanlah yang paling hebat. Berdasarkan ilmu metalurgi yang ditelaah secara mendalam, mereka menyimpulkan bahwa pedang paling hebat dengan ketajaman mencengangkan adalah pedang Damaskus.
Konon, sehelai sapu tangan berbahan sutra yang melayang di udara bisa dibelah dengan entengnya oleh pedang ini. Bahkan, benda yang keras dan padat seperti sebongkah batu pun dapat dibelah dua tanpa membuat pedang tersebut menjadi tumpul setelahnya.
Pedang ini begitu dikagumi oleh kerajaan-kerajaan barat. Orang-orang Eropa bahkan rela membayar uang dalam jumlah sangat banyak untuk memperoleh pedang asli tempaan penduduk Damaskus.
Di masa lalu, pedang ini punya ciri khas melengkung yang semakin runcing ketika sampai ke ujung. Selain itu, pedang asli Damaskus dapat dilihat dari pola aliran air yang ada di sekujur bajanya. Pola tersebut terbentuk bukan hasil dari suatu teknik tertentu, namun memang timbul secara alami.
Bahan utama pembuatan pedang ini adalah baja wootz. Namun, karena berkat pertempuran antara prajurit muslim dan prajurit kristen, orang-orang mulai menyebut baja tersebut sebagai baja Damaskus, yang diambil dari nama ibu kota Suriah. Padahal, baja ini merupakan pasokan dari India.
Namun, rahasia utama pedang ini terletak pada teknik pembuatannya. Tingkat presisi dalam menempa pedang ini disinyalir telah berhasil menghasilkan CNT dalam struktur mikro baja tersebut. Hal yang hingga kini tak mampu dilakukan dengan menggunakan studi paling modern sekalipun.
Namun, sayangnya teknik otentik dalam menempa pedang ini berangsur hilang sejak abad ke-18. Hal itu diakibatkan surutnya pasokan baja wootz dari India. Dan sedikitnya sumber rujukan mengenai cara atau proses pembuatan pedang super tajam ini.
Para pembuat pedang di era modern saat ini bahkan berlomba-lomba untuk mencoba menduplikasi pedang Damaskus. Namun, pedang yang mereka hasilkan tak pernah sama dengan pedang Damaskus asli peninggalan Salahudin Al-Ayyubi atau para prajuritnya.
Material mentah yang digunakan tak lagi sama dengan kondisi baja Damaskus saat itu dan teknik orisinalnya telah jauh berbeda dengan yang dilakukan oleh para pengrajin besi saat itu. Dan hingga kini tak ada lagi pedang yang mampu menandingi kekuatan dan ketajaman pedang Damaskus.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…