Kekerasan dalam rumah tangga adalah isu yang tak pernah selesai sejak dahulu kala. Kasus-kasus pemukulan terhadap istri, anak, atau pun juga suami kerap berakhir di meja perceraian. Atau kalau sudah parah akan berakhir di meja hijau. Kita sering beranggapan jika wanita selalu mendapat perlakukan tak baik karena ia terlalu patuh dan lemah. Selain itu, kita juga percaya jika orang yang hobinya pukul tak akan sembuh. Jadi jalan satu-satunya adalah kabur atau memenjarakan mereka!
Namun hal-hal yang sering kita percaya itu tak sepenuhnya benar, lho! Wanita tak hanya korban, pria pun juga bisa jadi korban. Wanita tak hanya jadi orang patuh, tapi ia juga kerap memancing kekerasan. Well, untuk selengkapnya, mari kita kupas satu-satu. Monggo!
Dari zaman dahulu kala kita percaya jika kekerasan hanya terjadi pada wanita. Mereka yang lemah akan menerima apa saja yang dilakukan suaminya. Yang bisa dilakukan wanita hanya diam, menunduk, dan membiarkan suami atau pasangan prianya memukul sesuka hati.
Faktanya, tak semua wanita adalah orang lemah. Mereka tak hanya pihak yang kerap disakiti. Namun mereka juga bisa melakukan kekerasan pada pria. Dalam beberapa kasus, pria dan wanita akan saling pukul dan menyakiti. Jadi tidak searah saja pria menyakiti wanita.
Dalam beberapa kasus yang tak banyak, pria juga kerap babak belur dihajar pasangannya. Satu dari tujuh pria pernah mengalami kekerasan fisik akibat pasangan. Jadi KDRT bukan monopoli lagi pria hajar wanita ya!
Orang yang kerap mengalami kekerasan dalam hidupnya akan susah keluar dari rasa takut. Akibatnya mereka akan mengalami trauma dan cuma bisa pasrah dengan hidupnya. Hal ini tak sepenuhnya benar. Tak semua orang, pria dan wanita akan mengalami trauma berat.
Beberapa korban kekerasan bahkan mengaku kerap memancing pasangannya saat bertengkar. Entah itu dengan kata-kata atau malah memulai perkelahian. Kekerasan yang terjadi di masa lalu tak membuat mereka jadi takut atau apa. Justru semakin kuat untuk terus melawan meski terus kalah.
Rasa takut dan trauma mungkin ada. Namun hal itu bisa hilang seiring berjalannya waktu. Terlebih mereka yang percaya jika pasangannya suatu saat bisa berubah. Enggak ada yang mustahil di dunia ini jika kita sudah berusaha!
Pasangan paling sempurna adalah mereka yang sama-sama baik. Saling mengerti dan tidak pernah melakukan kekerasan. Pasangan yang hidup seperti minyak dan air tak akan pernah cocok. Tak akan pernah bahagia. Yakin? Orang dengan kelakuan baik dan buruk menjadi satu pasti berakhir dengan kekerasan atau hal buruk?
Anda mungkin beranggapan jika orang yang kerap melakukan kekerasan tak bisa disembuhkan. Setiap saat mereka akan terus melakukan hal mengerikan itu kepada pasangan karena dorongan emosi. Bahkan karena dorongan kepuasan yang tak bisa diungkapkan.
Kebiasaan buruk bisa diubah perlahan-lahan. Tak langsung sembuh dengan cepat. Yang diperlukan hanya bersabar dan terus berbicara. Segala hal bisa diselesaikan asal saling mengerti. Dan caranya tak lain dan tak bukan: berbicara heart to heart!
Inilah hal yang sering sekali salah kaprah. Banyak orang, mungkin termasuk kita menganggap jika kekerasan artinya pukul atau tampar. Tidak, kita telah salah! Kekerasan bisa terjadi hanya dengan ucapan yang keluar dari mulut kita. Kata-kata kasar yang keluar dan ditujukan kepada pasangan sudah merupakan kekerasan.
Kenapa begitu? Karena manusia tak hanya hidup dengan tubuh. Mereka juga hidup dengan hati dan pikiran. Kata-kata kasar yang sering muncul akan membuat mereka jadi tertekan. Bahkan ada yang mengalami stress akibat kata-kata mengerikan yang tak seharusnya keluar!
Lagi pula, kekerasan dengan kata-kata dampaknya lebih lebih dahsyat. Perkataan mengerikan yang cenderung menghina dan merendahkan akan dirasakan dengan cepat. Mungkin sakit di tubuh tak seberapa daripada sakit di hati!
Apa saran anda jika mengetahui ada orang yang mengalami kekerasan rumah tangga? Kalau enggak menyuruhnya pergi dari rumah ya melaporkannya ke pihak yang berwajib. Namun, saran itu bisa jadi benar untuk sementara. Namun apa dengan pergi dari rumah lantas masalah akan selesai? Suami atau istri akan menjadi lebih baik dan tidak abusive lagi?
Jawabannya tidak! Banyak orang yang tetap menjadi tukang pukul bagi pasangannya usai pasangan pergi dan kembali. Segala bujuk rayu yang dilakukan agar pasangan kembali berakhir lagi dengan pukulan, tamparan, atau juga kata-kata kotor!
Jika cara bicara dengan baik-baik tak kunjung menghasilkan titik temu. Lantas kekerasan terus dilakukan bahkan lebih intens. Tak ada cara lain untuk mengatasinya selain melaporkannya ke pihak berwajib apa pun risikonya. Karena pada dasarnya pasangan yang baik akan mau berubah demi kebaikan bersama.
Itulah lima mitos tentang kekerasan rumah tangga atau KDRT yang sering kita percaya. Semoga hal mengerikan seperti ini tak menimpa kita atau orang di sekitar kita. Karena kekerasan tak pernah membawa kebahagiaan! Tidak akan pernah!
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…