Dokter selamatkan pasien
Fenomena yang memang sudah tidak bisa dipungkiri adalah kesenjangan ekonomi yang terjadi di masyarakat. Orang yang berkecukupan bisa memenuhi kebutuhan primer bahkan tersier. Sedangkan orang yang mengalami himpitan ekonomi tidak bisa memenuhi kebutuhan primer. Tak heran jika terlihat jelas sekali ketimpangan antara orang mampu dan orang yang kurang mampu.
Melihat kesenjangan ekonomi tersebut, tak sedikit mereka yang mampu dan tidak mempunyai hati nurani suka mengejek dan merendahkan kalangan tidak mampu. Bukannya memberikan sumbangan, malah menghina dengan kata- kata yang menusuk hati.
Namun, tak semua dokter mempunyai sifat dan tabiat yang serupa. Seperti salah satu dokter lulusan Universitas Brawijaya ini. Kisah ini menceritakan tentang sang dokter yang berjuang mati-matian untuk menyelamatkan pasiennya yang menggunakan BPJS penuh. Ia adalah seorang dokter yang bertugas di RSUD dr. H. Koesnadi Bondowoso.
Ahli bedah tulang yang bernama dr. Rudy Dewantara ini membantu operasi pasien yang terkena infeksi pada tulang panggulnya. Infeksi yang menimbulkan munculnya nanah ini mengakibatkan si pasien tidak bisa berjalan selama bertahun-tahun karena rasa nyeri yang hebat saat ia berusaha berjalan. Sehingga dokter ahli bedah yang menangani pasien yang berusia 25 tahun tersebut menawarkan untuk operasi. Ia juga meyakinkan si pasien bahwa satu-satunya jalan agar ia bisa berjalan lagi adalah melalui operasi pada tulang panggulnya.
Ahli medis asal Malang mengoperasi si pasien dengan mengganti tulang panggulnya yang terinfeksi dengan besi. Setelah melewati beberapa prosedur, operasi sang pasien dinyatakan sukses. Bagi si dokter, hal ini menjadi kebahagian tersendiri baginya untuk bisa menyelamatkan pasien, terlebih mereka yang kurang mampu, agar bisa sembuh dan sehat.
Ada beberapa hal yang menjadi alasan dokter Rudy mengapa ia berusaha keras menyelamatkan pasien yang kurang mampu. Salah satu alasan utamanya adalah Papanya. Ia sangat menyayangi dan juga sangat mengingat nasihat dan petuah- petuah yang diberikan sang papa. Meski beliau sudah tiada, ia akan selalu melakukan apa yang telah beliau ajarkan padanya. Salah satunya adalah jangan pernah membebani orang yang sakit karena ia dan keluarga pernah merasakan rasanya sakit dan harus berpikir beribu-ribu kali untuk pergi berobat ke dokter lantaran kesulitan biaya. Dengan begitu, ia ingin melaksanakan petuah papanya tersebut sebagai hadiah untuk papanya yang sudah almarhum sejak 1.5 tahun silam.
Setelah sukses dengan operasi sang pasien yang menggunakan jaminan kesehatan dengan potongan 99% dari biaya, ia menempelkan Koran yang berisi tentang lancarnya operasi pasien menggunakan jaminan BPJS tersebut. Ia merasa lega dengan apa yang telah ia lakukan dan ia akan senantiasa menjalankan petuah papanya dengan menyembuhkan pasien yang kurang mampu dan tidak meminta biaya tambahan secara pribadi.
Hidup di dunia ini tidak lama, jadi alangkah baiknya jika kita berbagi kebaikan karena nantinya jika kita menolong sesama maka Tuhan akan menolong kita saat kita sulit. Selain itu, menjadi seorang dokter memanglah tidak mudah, tapi yang lebih sulit adalah memaknai dan mempraktikkan tugas dokter sebenarnya yaitu membantu sesama untuk hidup sehat.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…