Rasisme adalah masalah yang sudah ada sejak dulu. Hingga saat ini, perilaku rasis sebenarnya juga masih bisa dijumpai meski sudah tidak sebanyak dan sekejam dulu. Hal ini karena masyarakat mulai menyadari bahwa pada hakikatnya, apapun ras, suku, atau etnisnya, mereka semua adalah manusia yang setara.
Pada masa ketika masyarakat tidak mempedulikan persamaan hak, rasisme adalah hal yang mengakar kuat. Masyarakat mayoritas memperlakukan kaum minoritas atau orang-orang yang berbeda dengan sangat buruk. Yang lebih mengerikan lagi, ternyata manusia yang ‘berbeda’ dari orang kebanyakan ini tadi bahkan juga dijadikan pameran layaknya di kebun binatang.
Setelah terjadinya perang antara Amerika dan Filipina, Amerika yang menang memutuskan bahwa mereka akan memperlakukan musuh mereka lebih jauh lagi dengan cara memamerkan mereka di tempat umum sebagai suku barbar. Awal Festival Dunia tahun 1904 di St. Louis saat itu bertepatan dengan berakhirnya perang. Maka Amerika membuat pameran manusia hidup, termasuk diantaranya lahan pameran seluas kurang lebih 190 meter yang diisi dengan suku Igorots, Filipina.
Kebanyakan orang tahu betul bahwa suku asli Amerika telah diperlakukan dengan tidak adil selama bertahun-tahun. Tapi tidak banyak yang tahu seberapa keterlaluan perlakuan yang mereka terima dan bagaimana sejarah berusaha keras untuk menyembunyikannya. Banyak orang mulai berkampanye bahwa Christopher Columbus bukanlah pahlawan yang menemukan Amerika seperti yang sering diceritakan.
Kebanyakan orang mungkin mengira kasus kebun binatang manusia cuman ada di zaman dulu saja. Nyatanya, hingga saat ini eksploitasi semacam ini masih terjadi di beberapa daerah. Suku Jarawa misalnya, telah bertahun-tahung tinggal di kepulauan Andaman, India dan terisolasi dari dunia luar. Pemerintah India kemudian menyediakan hukum yang bertujuan untuk melindungi masyarakat suku tersebut dan secara teknis masyarakat dilarang berinteraksi dengan suku-suku terpencil tersebut.
Banyak orang yang ikut-ikutan membuat kebun binatang manusia sebagai cara cepat untuk mendapatkan uang atau menunjukkan dominasi mereka. Namun, Carl Hagenbeck adalah sosok yang memulai trend tersebut. Ia juga salah satu yang benar-benar berkeinginan untuk mengumpulkan banyak masyarakat suku-suku asli bersama binatang di sebuah pertunjukan kebun binatang manusia.
Ia juga memiliki teman yang membuat pameran besar masyarakat suku Nubian di kebun binatang Eropa dan sekelompok suku Zulu serta Bushmen yang ditempatkan di kebun binatang Paris. Suku Siox asli Amerika juga dijadikan tontonan di kebun binatang Cincinnati.
Di usia 23 tahun, seorang suku pygmy bernama Ota Benga dibawa ke New York oleh seorang penjelajah, Samuel Phillips Verner dan tinggal di lahan kebun binatang Bronx. Di usia yang masih muda, Benga telah mengalami berbagai kejadian sulit mulai dari 2 kali menjadi duda, lolos dari pembantaian, dan sebelumnya pernah dijadikan budak. Yang lebih mengenaskan lagi, di New York ia diperlakukan layaknya binatang.
Pada akhirnya ia dibebaskan dari kandang, tapi ia terus diikuti dan diejek oleh orang-orang. Benga yang marah dan frustasi kemudian melukai beberapa orang pengunjung dengan panahnya. Ia akhirnya diselamatkan oleh beberapa orang, diajari berbahasa Inggris, mendapatkan pekerjaan, serta menerima perlakukan yang lebih baik dari sebelumnya. Namun rasa sakit dan tersiksa masih tersimpan dalam dirinya, ditambah dengan kehidupan di dunia baru yang asing akhirnya membuatnya bunuh diri beberapa tahun kemudian.
Pada abad ke-19, seorang dokter Inggris bernama William Dunlop berkunjung ke Afrika. Dalam perjalanan pulang, ia berhasil meyakinkan seorang wanita Afrika bernama Sartje untuk ikut dengannya. Tanpa diketahui, ternyata tujuannya membawa pulang wanita tersebut adalah untuk menjadikannya pameran karena karakter tubuhnya yang tidak biasa.
Pada akhirnya ia meninggal dunia karena cacar tidak lama kemudian. Ia selalu dipandang rendah dalam pameran tersebut dan bahkan para ilmuwan berpikir bahwa ia mungkin adalah “mata rantai” evolusi yang hilang. Secara tidak langsung sejak awal mereka beranggapan bahwa Sartje juga bukan manusia.
Beberapa kisah kejam dan mengerikan tersebut membuktikan bagaimana terkadang manusia bisa begitu kejam terhadap orang lain hanya demi menghibur diri. Tapi hal ini juga menunjukkan sudah seberapa jauh kita melangkah sebagai manusia yang mampu menghargai dan menghormati orang lain. Jika saat ini masih saja ada yang bersikap rasis dan merendahkan orang lain, apa bedanya kita dengan orang-orang kejam ini di masa lalu?
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…