Seperti ungkapan yang mungkin sering sekali kamu dengar, “Kematian tidak pernah mengenal yang namanya umur”, hal ini memang sangat benar. Tak peduli seberapa muda atau tua seseorang, ketika kematian datang menjemputnya ya sudah ia pasti akan meninggal dunia. Kematian di usia senja mungkin sesuatu yang biasa mengingat hal tersebut sangat wajar. Namun untuk hal yang sebaliknya, kita seolah masih terheran-heran.
Masih muda namun sudah dipanggil Tuhan, kita masih saja terkejut ketika hal ini dialami seseorang. Terlebih jika momen ketika meninggalnya sangat mengharukan. Seperti deretan gadis cantik berikut. Ya, mereka menghembuskan nafas terakhirnya di saat-saat paling membanggakan. Alhasil, kejadian tersebut pun mengentak banyak orang. Bagaimana kronologinya? Berikut penjelasannya.
Bagi seorang mahasiswa momen paling membahagiakan tentu adalah wisuda. Tapi bagaimana jika di saat yang mengharukan seperti ini malah harus dipanggil Tuhan? Tentu rasa bahagia yang muncul berubah sekejap menjadi duka yang mendalam. Hal ini lah yang dirasakan oleh orang-orang terdekat seorang mahasiswi cantik bernama Aminah Jennifa Ahmed.
Keluarga pun memutuskan untuk segera membawa Aminah ke rumah sakit. Namun tak sampai diagnosa dokter turun gadis ini sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Aminah sendiri diduga menderita aneurisma atau kelainan pembuluh darah otak.
Fakta unik dari gadis manis ini adalah ternyata ia tengah menjalankan sebuah proyek amal yang dikhususkan untuk membantu anak-anak miskin di Asia Selatan. Sepeninggal Aminah, ternyata kegiatan ini makin besar dan berhasil mengumpulkan sumbangan hingga Rp 263 jutaan. Organisasi amal ini pun akhirnya juga diganti dengan Aminah See. Meskipun meninggal dalam usia muda, mungkin ini adalah kematian terbaik yang bisa didapatkan Aminah.
Hampir mirip seperti yang dialami oleh Aminah, Icha, mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini juga meninggal setelah tak lama diwisuda. Namun kronologinya bisa dibilang lebih mengharukan. Futicha Sirrulhayati Muna, mahasiswa jurusan Biologi ini memang lemah sejak sebelum prosesi wisuda. Bahkan ketika dikukuhkan sebagai sarjana ia menggunakan kursi roda. Ketika bersalaman dengan ketua rektor UNY pun ia nampak sudah lelah dan beberapa kali memejamkan matanya.
Netizen sempat bertanya-tanya tentang penyakit apa yang diderita oleh Icha. Namun Evy Yuliati, selaku Kaprodi Biologi UNY hanya mengatakan bagaimana kondisi anak didiknya tersebut di saat-saat terakhir. “Sebenarnya Icha sudah agak lama merasa pusing-pusing tapi hal itu tidak membuatnya mengeluh. Icha sudah beberapa kali melakukan pemeriksaan di rumah sakit sekitar muntilan. Dulu waktu masih bimbingan skripsi dan ujian wajahnya masih ceria. Waktu yudisium pun juga masih sehat. Tapi kesehatannya menurun dan beberapa kali masuk rumah sakit,” ungkap sang dosen pembimbing Icha ini.
Indonesia pernah sangat dijunjung di mata ASEAN setahun belakangan tepatnya di Oktober 2014. Bagaimana tidak, negara ini mengirimkan salah satu putri terbaik bangsa yang akhirnya sukses menjadi duta untuk organisasi terbesar di Asia Tenggara itu. Hal yang lebih mencengangkan lagi, perwakilan Indonesia ini sangat cerdas dengan kemampuan penguasaan 14 bahasa asing dengan fasih. Yup, kita sedang membicarakan tentang Gayatri Wailissa.
Kronologinya adalah ketika pada suatu sore ia tengah melakukan joging di Taman Suropati. Namun tak lama setelah itu Gayatri tiba-tiba pingsan. Dugaan awalnya karena ia kelelahan dan terlalu memaksakan diri ketika melakukan aktivitas favoritnya itu. Namun, setelah diperiksa dokter diketahui kalau gadis manis ini mengalami pecah pembuluh darah di otak. Hingga kemudian dinyatakan sang gadis kebanggaan ini meninggal dunia.
Tentu ini adalah kehilangan yang sangat berat. Mengingat belum tentu ada 1 di antara seribu orang yang bisa melakukan apa yang dikuasai Gayatri. Uniknya, kematian ini seperti sudah diduga olehnya. Pasalnya, suatu ketika ia sempat bergumam kepada sang ayah, “Saya ingin mati dikenang oleh masyarakat dan tinggalkan kenangan yang susah dilupakan oleh masyarakat Indonesia.” Sang ayah, Deddy Darwis sama sekali tak menyangka jika ucapan putri pintarnya itu ternyata adalah pertanda bahwa ia akan benar-benar membanggakan Indonesia dan akhirnya meninggal dunia.
Kematian tidak pernah bisa diduga kapan datangnya. Tak bisa dimajukan lebih-lebih ditangguhkan. Kematian juga tidak peduli akan apa yang dilakukan si calon. Namun seperti kalimat bijak yang sering kita dengar, “Orang baik pasti matinya dalam kondisi yang baik pula”, sangat bisa untuk kita percaya. Jadi, persiapkan apa pun yang kita bisa, karena kapan pun kematian bisa saja datang.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…