April tahun 1815, Gunung Tambora yang terletak di Pulau Sumbawa meletus dengan begitu dahsyatnya. Bahkan begitu dahsyatnya letusan gunung tersebut sampai mempengaruhi keadaan di seluruh dunia.
Hingga saat ini, letusan gunung Tambora masih tercatat sebagai bencana alam terburuk di era modern. Meski kejadiannya sudah begitu lama, hingga kini masih banyak catatan dan penelitian yang mampu menceritakan bagaimana bencana tersebut terjadi. Berikut ini beberapa faktanya.
Tambora sebenarnya adalah gunung api aktif dan sudah pernah meletus tiga kali sebelum letusan tahun 1815. Namun seberapa besar kekuatannya tidak diketahui. Letusan pertama terjadi pada tahun 3910 SM, 3050 SM, dan 740.
Ketika terdengar suara dentuman secara terus menerus, kebanyakan orang tidak mengira bahwa itu adalah suara letusan gunung. Bahkan Raffles yang saat itu ada di Bogor mengira itu adalah suara musuh yang menembakkan meriam.
Ketika meletus, Tambora memuntahkan abu dan bebatuan piroklastik hingga setidaknya mencapai seratus kilometer kubik lebih. Jumlah ini jauh lebih dahsyat dari letusan Krakatau yang memuntahkan sekitar 20 kilometer kubik.
Sebelum meletus, ketinggian gunung Tambora mencapai 4.300 meter dan menjadikannya salah satu puncak tertinggi di Nusantara. Namun akibat letusan tahun 1815, sepertiga bagian dari puncak gunung Tambora hancur berhamburan.
Tahun 2004, tim arkeologi yang melakukan penggalian menemukan sisa peradaban yang terkubur. Karena posisi dan cirinya mirip dngan Pompeii yang terkubur karena letusan gunung Vesuvius, temuan ini sering disebut sebagai Pompeii dari Timur.
Letusan gunung Tambora menyebabkan iklim dunia menjadi kacau. Negara di belahan dunia utara tidak melewati musim panas tahun 1816 akibat tertupu kabut tebal. Bahkan suhu normal dunia juga berkurang sekitar 0,4 – 0,7 derajat Celcius. Meski kelihatan kecil, ini cukup menyebabkan pertanian dunia menjadi kacau.
Bebatuan apung tercipta akibat letusan ini dan beberapa diantaranya bisa mengapung di air. Letusan Tambora menciptakan begitu banyak batu menyelimuti lautan hingga terlihat seperti gunung es raksasa di lautan.
Meskipun tidak ada saksi mata yang masih hidup untuk menceritakan kejadian tersebut, namun banyak catatan sejarah yang merekam kejadian ini. Pasalnya, letusan tersebut tidak cuma mempengaruhi Indonesia saja, tapi juga warga dunia lainnya. Kisah ini membuktikan bahwa kondisi alam seperti apapun di belahan dunia manapun sebenarnya akan saling mempengaruhi wilayah lainnya karena kita tinggal di planet yang sama. Kerusakan di belahan dunia manapun, pada akhirnya akan berdampak pada kita.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…