Sudah menjadi semacam hukum tak tertulis di Indonesia jika makin tinggi level pendidikan maka makin enak nasibnya. Gampang cari kerja, gaji juga tinggi, serta berbagai imajinasi menggiurkan lainnya. Makanya, kampus sampai kapan pun takkan pernah sepi karena tujuan semua mahasiswa rata-rata memang hal-hal seperti ini. Belum lagi kebanggaan menyandang gelar di belakang nama yang akan sangat mempercantik surat lamaran kerja atau undangan nikah.
Meskipun demikian mulia tujuannya, namun pada praktiknya, pendidikan tinggi di negeri ini tak selalu mulus seperti yang terlihat dari brosur-brosurnya. Ada begitu banyak skandal yang mencoreng integritas perguruan tinggi. Bahkan kampus sekarang dianggap sebagai wadah yang pas untuk melakukan berbagai macam aksi tidak terpuji.
Nah, kali ini kami akan mencoba menguak hal-hal buruk apa saja yang pernah terjadi di ranah pendidikan tinggi di Indonesia. Ini sudah menjadi rahasia umum, dan pasti banyak orang pernah jadi korban atau saksi dari hal-hal seperti ini.
Punya pendidikan tinggi adalah dambaan banyak orang. Sayangnya, tidak semuanya dimampukan untuk meraihnya. Entah karena waktu, biaya atau bahkan tingkat inteligensi. Namun, di Indonesia, seseorang bisa mendapatkan gelar dan berdandan cantik untuk wisuda meskipun tidak menjalani satu SKS pun. Ya, mereka cukup membelinya saja.
Kampus yang sejatinya adalah institusi pemberi pengajaran dan pendidikan, ternyata juga tak luput dari yang namanya korupsi. Kampus memang disinyalir sebagai tempat yang sangat enak bagi oknumnya untuk melakukan hal tersebut. Ranah korupsinya sendiri bahkan lebih luas dengan nilai korup yang besar.
Semua orang ingin mendapatkan pendidikan tinggi, namun terbentur dengan biaya yang makin tidak realistis dan sulit dijangkau. Peningkatan biaya yang signifikan ini memang diakui benar terjadi. Setiap tahunnya, kampus selalu menaikkan biaya-biaya kuliah. Dana pengembangan fakultas (SPF atau uang pangkal) misalnya, tiap tahun pasti mengalami kenaikan. Bahkan untuk jurusan kedokteran bisa menyentuh angka puluhan juta.
Cukup beruntung dengan lolos seleksi masuk perguruan tinggi, takkan membuat seseorang serta merta duduk di bangku kuliah. Ya, masih ada persyaratan yang harus dipenuhi untuk itu. Apalagi kalau bukan administrasi berupa uang dan biaya-biaya. Ketika ia tak sanggup membayar sejumlah uang dengan tenggat waktu tertentu, maka terhapus sudah impiannya untuk duduk di bangku kuliah. Meskipun punya kemampuan secara akademis.
Setiap orang punya cara sendiri untuk memanfaatkan statusnya sebagai mahasiswa. Sebagian pilih jadi kutu buku dengan mendekam di perpus, sebagian lagi jadi aktivis dengan ikut berbagai macam organisasi, dan tak sedikit pula yang memanfaatkan kemahasiswaannya untuk mencari uang dengan cara yang tidak halal. Ya, tanpa dijelaskan secara gamblang mungkin sudah sangat jelas ini ranahnya akan ke mana.
Beginilah potret pendidikan tinggi di negeri ini. Penuh dengan hal-hal buruk yang bikin kepercayaan masyarakat terhadap institusi ini sirna. Tapi, tidak semua kampus seperti ini tentu saja. Makanya sebelum memilih ke kampus mana akan berlabuh, ada baiknya selidiki dulu seluk beluknya. Terutama yang berkaitan dengan desas desus negatif tentang mereka. Kampus yang baik tentu akan menghasilkan lulusan yang baik pula. Benar begitu, bukan?
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…