Indonesia dulu pernah keluar dari PBB di tahun 1965. Alasan utamanya sendiri adalah lantaran PBB menerima Malaysia sebagai anggota tidak tetap. Bung Karno menganggap PBB semacam menciderai asas kedaulatan dan kemerdekaan, lantaran Malaysia sejatinya adalah negara boneka Inggris. Muak dengan PBB, pada akhirnya Soekarno mendirikan organisasi perkumpulan bangsa-bangsa tandingan PBB bernama CONEFO.
CONEFO atau Conference of The New Emerging Force tentu saja tidak dibuat semata-mata sebagai ajang balas dendam Bung Karno. Tapi lebih kepada tujuan untuk mewadahi negara-negara yang sejalan dengan pemikiran bangsa ini soal hal-hal yang berkaitan dengan kedaulatan sebuah negara. Perkumpulan ini diterima sangat baik oleh beberapa negara. Sayang, pada akhirnya CONEFO berakhir tak sesuai rencana.
Kita mungkin sangat jarang mendengar CONEFO, padahal Bapak Bangsa sendiri yang membuatnya. Agar lebih tahu tentang perkumpulan satu ini, simak fakta-fakta mengejutkan tentang konferensi satu itu.
Ya, benar, Malaysia yang dijadikan anggota tetap PBB bukan satu-satunya alasan kenapa Indonesia keluar dari organisasi itu dan kemudian membentuk CONEFO. Ada satu alasan lain yang juga tak kalah kuat dan mendorong Bung Karno untuk mendirikan perkumpulan itu.
Selain sebagai bentuk kekecewaan terhadap PBB, CONEFO juga dibuat untuk mewadahi negara-negara yang seolah bingung dalam menentukan kubunya. Seperti yang kamu tahu, dunia ini dulunya dibagi menjadi dua blok besar, barat dan timur yang masing-masing dipimpin oleh AS dan Soviet.
Untuk membuktikan kepada dunia terutama PBB jika CONEFO bukan abal-abal, Soekarno kemudian merancang gedung yang dipakai untuk perhelatan atau markas. Pembuatan gedung ini disetujui oleh semua anggota termasuk Tiongkok yang bahkan memberikan banyak bantuan. Gedung ini dibangun di Gelora Senayan dengan konsep-konsep megah.
Soekarno menargetkan mega proyek ini selesai dalam 17 bulan. Padahal, normalnya adalah lima tahunan. Keterburu-buruan ini dimaksudkan agar gedung tersebut siap untuk konferensi perdana CONEFO. Sayangnya, cita-cita ini tak pernah terwujud.
Seperti yang kita ketahui, seusai G30S perlahan tampuk kekuasaan pun berganti ke Soeharto. Dan entah apa alasannya, sang presiden pengganti ini seolah-oleh ingin menghilangkan semua pengaruh Soekarno. Salah satu bukti paling nyata adalah pembubaran CONEFO olehnya di tahun 1966.
Seumpama sejarah bangsa ini berjalan seperti rencana Bung Karno, tidak menutup kemungkinan Indonesia bakal tetap sangat disegani dunia sekarang ini. Apalagi, salah satu anggota setia CONEFO adalah Tiongkok yang notabene hari ini mulai menggerus negara poros kekuatan dunia, AS dan Rusia. Sejarah tinggal sejarah, yang bisa kita lakukan hari ini adalah belajar agar tidak melakukan kesalahan yang sama.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…