Bagiku, cinta yang indah itu adalah yang mendapat restu. Sulit bagiku menjalin hubungan dengan dirimu tanpa adanya restu dari orang tua atau orang terdekatmu. Jujur saja tak pernah ada maksud hatiku untuk menjauhi atau menjaga jarak darimu. Hanya saja saat ini aku sedang berupaya untuk mendapatkan restu, dari orang tuamu juga dari orang tuaku.
Berilah aku waktu beberapa saat lagi. Bersabarlah sebentar lagi. Aku tahu kamu juga sedang berusaha mempertahankan hubungan kita. Aku pun di sini sedang memperjuangkannya dengan caraku sendiri. Bukan, bukan maksudku untuk egois. Aku ingin hubungan kita berakhir indah dan bahagia. Jadi, coba pahamilah.
Ketika aku mendengarmu orang tuamu belum memberi restu hubungan kita, jujur hatiku hancur. Perih hati ini menghadapi kenyataan hubungan kita bagai di ujung tanduk. Tak ingin aku berpisah darimu. Tapi tak mungkin aku murka dan marah pada orang tuamu. Kutahu pasti ada sebab orang tuamu belum memberi restu hubungan kita.
Aku bukan pengecut dan aku juga tak mau jadi gila. Meski cinta kita terhalang restu, bukan berarti aku berhenti dan pasrah. Akan aku buktikan aku bisa jadi sosok pelindungmu, seseorang yang bisa kau andalkan. Tak hanya itu, aku juga ingin kedua orang kita bisa sama-sama bahagia dan ikut tersenyum melihat kita jalan bersama.
Tak bisa kututup mata kemungkinan itu ada. Kemungkinan bahwa kau dan aku tak ditakdirkan bersatu. Tak bisa aku mengelak kalau pasti akan ada kemungkinan kita ternyata tak berjodoh. Tapi itu bukan alasanku untuk langsung menyerah dan berputus asa saat ini. Seperti kata orang, sebelum janur kuning melengkung, pantang diri ini mundur untuk memperjuangkanmu.
Di film atau drama percintaan, saat cinta terhalang restu, biasanya sang pria akan membawa kabur kekasihnya. Atau mereka nekat untuk kawin lari atau menikah diam-diam. Tapi aku tak akan melakukan itu. Aku tak mau malah menyusahkan atau membuat khawatir orang lain dengan aksi nekat yang konon katanya “atas nama cinta”. Tak pernah sedetik pun terbesit di pikiran untuk mendapatkanmu dengan mengorbankan perasaan atau hati orang terdekat kita.
Tujuanku masih sama: mendapatkan restu. Aku masih memperjuangkanmu. Meski lelah dan rasanya sudah hampir menyerah, ketahuilah aku bisa tetap melangkah. Kuperjuangkan dirimu dengan semampuku. Akan kucapai pintu restu itu. Entah sampai kapan, semoga kamu bisa bersabar.
Meraba dan memprediksi masa depan sama sekali bukan keahlianku. Yang aku tahu apa yang kukerjakan dan kuperjuangkan saat ini akan mencapai sebuah akhir. Entah bahagia atau duka. Tak pernah kutahu pasti apakah kita akan mendapat akhir yang indah. Tapi tak pernah pupus harapan itu untuk bisa bersanding denganmu.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…