Warganet kini tengah heboh dengan pemberitaan soal pejabat yang membeli mobil mewah, di tengah kemiskinan yang diderita oleh rakyat dipimpinnya. Dilansir dari news.detik.com, Bupati Pandeglang Irna Narulita disorot lantaran membeli mobil dinas Land Cruiser Prado senilai Rp 1,9 miliar.
Alhasil, keputusan tersebut menuai polemik yang ujung-ujungnya melebar menjadi pro dan kontra. Tak hanya masyarakat awam rakyat, tapi juga para pengamat kebijakan publik ikut bereaksi atas peristiwa tersebut. Hal semacam ini, sejatinya tak lepas dari tradisi elite yang tetap dilestarikan dari masa ke masa. Di mana fasilitas dan kemewahan ikut menjadi tolak ukur utama yang dilegitimasi karena posisi mereka sebagai anggota dewan.
Dari sini sudah terlihat, kemiskinan adalah suatu persoalan yang secara nyata telah terjadi di depan mata. Rasanya-rasanya, tidak adil jika pemimpinnya masih menikmati kemewahan, sementara rakyat masih berkubang dalam lumpur kemiskinan. Perkara pembelian mobil dinas berharga Rp 1,9 miliar di atas, masyarakat maupun pengamat punya jawaban masing. Tentu saja tidak berada dalam suara yang seragam alias pro dan kontra.
Bertolak belakang dari Dimyati, Ketua Pusat Kajian Antikorupsi (Pukat) UGM, Oce Madril juga ikut angkat suara mengenai hal tersebut. Menurut dirinya, Pembelian mobil dinas mewah itu jelas tidak akuntabel lebih ke pemborosan anggaran. Terlebih, kondisi masyarakat Pandeglang yang kini masih banyak yang berada dalam belitan kemiskinan, membuat hal tersebut menurut Oce sebagai bentuk perilaku koruptif.
Menurut penulis, ada baiknya jika para anggota dewan di Indonesia berkaca pada mantan pemimpin Uruguay, Presiden José Mujica. Sebagai kepala negara, hampir tak ada kemewahan yang pernah dapatkan selama menjabat posisi tersebut. Dilansir dari bbc.com, hartanya yang terlihat paling berharga ialah Volkswagen Beetle berwarna biru buatan tahun 1987. Kendaraan tua itulah yang sehari-hari menemani dirinya sebagai pemimpin dari rakyat Uruguay. Jika di Indonesia, hal ini mungkin bakal menjadi sesuatu yang sulit untuk dijalankan bagi pejabat kita.
BACA JUGA: Walau Kaya Raya, 5 Pejabat Indonesia Ini Tetap Hidup Sederhana
Alangkah baiknya jika para pejabat di Indonesia, mau meluangkan waktunya sejenak untuk berpikir, bagaimana jika seandainya mereka berganti posisi menjadi rakyat miskin yang membutuhkan uluran tangan. Penulis sendiri memiliki pendapat, mengutamakan kebutuhan masyarakat yang dipimpin seharusnya menjadi prioritas utama bagi pejabat publik. Entah itu sebagai Presiden, Gubernur, Walikota, Bupati, atau bahkan Kepala Desa. Karena mereka yang telah terpilih, sejatinya adalah pelayan bagi masyarakat. Bukan sebaliknya.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…