Potong jari menjadi ritual yang masih sah bagi berbagai kalangan. Suku Dani dari Papua misalnya, akan menggugurkan satu ruas jarinya saat ada keluarga yang berpulang. Lain halnya dengan dunia yakuza di negeri Sakura yang menganggap potong jari sebagai konsekwensi atas kesalahan besar yang mereka lakukan. Mereka menyebutnya sebagai ‘yubitsume’.
Yubitsume sendiri jika diartikan adalah “pemendekan jari” yang mana sudah menjadi ritual khusus bagi pada anggota yakuza yang melakukan kesalahan dan harus menerima hukuman atas tindakannya tersebut atau juga sebagai bentuk permintaan maaf kepada yang lainnya.
Pada abad ke-18 di Jepang, banyak kelompok petani atau pelancong yang gemar melakukan perjudian, mereka disebut dengan istilah “bakuto” dan rata-rata hidupnya bebas, tak memandang aturan atau norma masyarakat dan menjadi cikal bakal munculnya yakuza. Tanpa disangka, kelompok bakuto ini memiliki pengaruh juga pengikut yang cukup luas di masyarakat. Banyak yang tertarik, tapi tak sedikit juga yang tak ingin berurusan dengan mereka karena kelompok bakuto tidak segan untuk melakukan kekerasan bila ada yang cari gara-gara.
Satu hal yang melandasi terciptanya yubitsume adalah jika ada sebuah perjudian dan orang yang bertaruh tidak dapat membayar uang setelah kalah, maka sebagai gantinya dia akan mendapatkan hukuman berupa potong jari yang pada waktu itu dikenal dengan istilah “yubi o tobasu” atau “jari melayang.”
Dari situlah, yubitsume terus dilakukan dan akhirnya ketika bakuto berubah menjadi yakuza, aksi potong jari ini kerap dilakukan kepada orang lain atau anggota sendiri yang melakukan kesalahan. Untuk melakukan yubitsume bagi para anggota kelompok adalah dilakukan sendiri tanpa disuruh oleh anggota lainnya atau harus dipotongkan orang lain, karena hal ini termasuk suatu yang memalukan jika ada orang lain yang harus melakukannya. Jari yang kebanyakan menjadi ‘korban’ adalah jari kelingking pada ruas kedua dari atas.
Di awal pembentukannya, selain sebagai rasa permintaan maaf atau karena suatu kesalahan yang dilakukan, yubitsume dilakukan untuk membuat orang yang bersangkutan tidak dapat memegang pedang secara benar karena salah satu ruas jarinya terpotong.
Sekarang ini, hukuman potong jari sudah sangat jarang dilakukan. Bahkan menurut data dari Pemerintah Jepang sampai tahun 1993 lalu, hanya ada sedikit saja anggota yakuza yang cacat ruas jari. Ini karena hukuman potong jari tersebut sudah bukan menjadi satu hal yang cocok lagi di era modern dan jika ada anggota atau orang lain yang melakukan kesalahan, maka hukumannya rata-rata adalah denda uang atau nyawa sebagai taruhan jika tidak memiliki sesuatu apapun untuk dibayarkan.
Namun, ada pengecualian bagi para keluarga pembesar kelompok. Bagi mereka yang melakukan yubitsume, maka masih berhak untuk menyambungnya kembali untuk melindungi citra kelompok dari pandangan kelompok lainnya.
Alasan lain yubitsume sudah semakin ditinggalkan karena sekarang ini yakuza tidak hanya berkutat di Jepang saja tapi juga ke negara lain untuk meluaskan daerahnya atau juga untuk berbisnis. Hanya saja, ketika akan masuk ke suatu negara, khususnya Amerika Serikat, akan ada scanning tangan atau kelima jari sebagai identifikasi awal sebelum dipersilakan masuk di bandara.
Jika seseorang kedapatan hanya memiliki 4 atau 3 jari saja, maka dia akan ditolak masuk karena teridentifikasi sebagai anggota dari sindikat kriminal Jepang, terutama jika dia berpasspor dari Negara Sakura tersebut. Karena itulah, agar tidak merugikan kelompoknya dan dapat keluar masuk negara asing dengan tenang, maka yubitsume sudah mulai ditinggalkan.
Pemerintah Jepang mengeluarkan larangan tersebut selain karena menghormati hak pribadi dan juga merasa yubitsume adalah suatu tindakan yang membahayakan diri sendiri, juga menganggap bahwa semua anggota yakuza memiliki hak sama untuk masuk atau keluar dari organisasi. Dari dulu, ketika ada seorang anggota yakuza yang ingin keluar, maka sebagai ‘tanda berhentinya’ dia harus memotong jarinya sendiri.
Sekarang ini, populasi yakuza di Jepang sampai tahun 2012 lalu sudah sangat menurun drastis dari yang berjumlah sekitar 53 ribu orang dari berbagai kelompok, berkurang sekitar 5000 dan terus menurun dari tahun ke tahun.
Satu pengabdian tanpa batas ketika memutuskan untuk menjadi anggota yakuza. Soliderisme antarsesama dalam satu keluarga besar, saling tolong menolong dan membantu antarsesama anggota, loyalitas tinggi untuk menjunjung tinggi nama organisasi sampai dengan patuh dan melakukan aturan yang dibuat tanpa mempertanyakannya adalah suatu kewajiban. Itulah yakuza – ucap Myazaki.
Walaupun bukan menjadi satu budaya asli, namun yakuza dengan yubitsumenya sudah menjadi icon dari Negara Sakura itu sendiri. Menurut seorang penulis buku terkenal, Manabu Miyazaki, menjadi yakuza itu harus benar-benar total dan loyal.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…