Gemerlapnya kota Beijing di Cina sebagai salah satu kawasan paling sibuk di negara tersebut, ternyata menyimpan sebuah rahasia besar yang selama ini seolah tersamarkan dengan hiruk pikuk yang ada. Nun jauh di bawah gedung-gedung pencakar langit, ada ribuan orang yang tinggal berdesakan di sebuah hunian yang sempit.

Khalayak ramai di Cina kemudian menyebut mereka yang tinggal di sana sebagai shuzu—atau ‘suku tikus’—karena tinggal di bawah tanah. Kondisi kamar yang ada di sana sejatinya bukan diperuntukkan untuk ditinggali secara permanen. Menurut sejarahnya, tempat tersebut sejatinya merupakan bunker bawah tanah sebagai tempat perlindungan perang.

Bunker bawah tanah yang dibangun sebagai tempat berlindung jika terjadi perang

Keberadaan bunker bawah tanah yang ditempati oleh para ‘suku tikus’ Cina tak lepas dari ketegangan politik di masa silam. Sejak akhir tahun 1950-an, hubungan antara Cina dan Uni Soviet (kini Rusia), tengah memanas. Bahkan, kedua negara yang sama-sama menganut ideologi komunis itu tak ragu untuk saling serang menggunakan bom nuklir. Pemerintah Cina yang kala itu di bawah kendali Mao Zedong bersiap sedia.

Ketegangan yang semakin memuncak pada 1969, membuat dirinya memerintahkan rakyat untuk menggali terowongan untuk dijadikan sebagai tempat berlindung dari serangan bom. Akhir tahun 1970, sebanyak 75 kota besar di Cina dilaporkan telah berhasil membuat lubang yang dapat menampung 60 persen masyarakat di atasnya. Sayang, sepeninggal Mao, penggantinya Deng Xiaoping membatalkan hal tersebut.

Menjadi tempat yang nyaman bagi 1 juta penduduk yang dijuluki sebagai ‘suku tikus’

Meski menjadi proyek yang sejatinya sia-sia karena perang nuklir urung terjadi, banyak dari mereka yang justru telah merasa nyaman tinggal di tempat perlindungan tersebut. Bahkan hingga kini, area tersebut telah bersalin rupa menjadi layaknya apartemen bawah tanah dan disebut sebagai Dixia Cheng (Underground City). Dilansir dari BBC (21/06/2017), ada satu juta orang yang tinggal di sana.

Salah satu ruangan yang dihuni oleh para ‘suku tikus’ di Beijing [sumber gambar]
Mereka yang tinggal di sana, banyak didominasi oleh buruh migran yang tidak cukup beruntung saat datang mengadu nasib ke Beijing. Luasnya bunker yang ada, kemudian disekat hingga menjadi beberapa bagian hingga akhirnya cukup digunakan sebagai tempat tinggal yang nyaman, seperti kamar tidur tanpa jendela, dapur, hingga ruangan khusus untuk merokok.

Rawan digusur karena dianggap menyalahi aturan pemerintah

Tinggal secara nyaman di bawah tanah, bukan berarti keberadaan mereka sepi dari gangguan. Radio Nasional Cina menyebutkan, ruangan yang mereka gunakan sejatinya telah menjadi aset pemerintah setempat. Tak heran jika beberapa tahun belakangan banyak dari para ‘suku tikus’ di sana kena razia. Pihak berwenang beranggapan bahwa menempati lokasi tersebut dikhawatirkan menimbulkan ancaman keselamatan.

Lorong dari bunker dengan gambar pekerja yang dulu dibangun oleh rezim komunis Mao Zedong [sumber gambar]
Dilansir dari BBC (21/06/2017), aparat setempat pernah menggelar razia besar-besaran untuk menggusur mereka yang masih tinggal di Dixia Cheng. Dari operasi tersebut, lebih dari 120.000 ‘suku tikus’ digusur karena alasan keamanan. Hal ini jelas sulit bagi mereka yang memiliki penghasilan yang rendah, atau bahkan kurang untuk menopang hidupnya di kota serba mahal seperti Beijing.

BACA JUGA: 4 Kota Bawah Tanah Tersembunyi Ini Akan Membuatmu Tercengang

Tingginya biaya hidup di Beijing yang dikenal sebagai kota metropolitan, seakan tak memberikan pilihan lain bagi mereka yang berpenghasilan rendah. Tinggal di bawah tanah dan hidup sebagai suku tikus, menjadi hal yang masuk akal di tengah tingginya biaya sewa apartemen di Beijing yang semakin lama harganya terus naik.