Ambil contoh kisah Sartika ini. Seandainya Sartika minimal mengenal akrab tetangga di kanan-kiri kosannya, ia yang mungkin sudah pingsan selama beberapa jam akibat maagnya yang kambuh dan tak keluar kamar ketika pintunya diketuk atau ponselnya dihubungi berkali-kali mungkin masih bisa mendapat pertolongan.
Tak ada maksud keji untuk menyalahkan salah satu pihak atas meninggalnya Sartika. Namun, skenario terselamatkannya mahasiswi berprestasi alumni SMA 1 Tarutung ini sangat masuk akal terjadi apabila semua penghuni kosan memiliki rasa kepedulian, kepekaan, serta rasa saling perhatian dengan penghuni kosan yang lain.
Sekali lagi, semoga kita dapat memetik hikmah dari peristiwa memilukan ini. Bolehlah kamu merasa sungkan ketika ingin meminta bantuan pada penghuni kosan lain atau takut dicap suka mencampuri urusan mereka. Tapi, mari kita mengingat kembali bahwa manusia terlahir dengan kodrat sebagai makhluk sosial. Jika bukan kepada mereka kita meminta bantuan, siapa lagi yang bisa menolong kita?