in

4 Perang Melawan Musuh ‘Remeh’ Malah Berakhir Kekalahan yang Memalukan

Emu War [Sumber gambar]

Peperangan adalah satu hal yang pasti terjadi di setiap belahan bumi manapun. Tindakan ini bisa berupa perang saudara karena memperebutkan tahta dan kekuasaan, bisa pula dilakukan oleh kaum kolonial demi untuk mendapatkan dan menguasai wilayah beserta segala sumber daya di dalamnya.

Dalam sejarah dunia, Perang Dunia I dan Perang Dunia II adalah pertempuran besar tak terlupakan, di mana negara paling kuat beradu kemampuan untuk menguasai dunia. Selain perang-perang untuk unjuk kebolehan di atas, ada perang yang tak kalah unik dengan melawan musuh ‘remeh’ tapi berujung dengan kekalahan yang memakan korban jiwa. Berikut ini Boombastis.com merangkum untuk Sahabat semua.

10 ribu prajurit tewas melawan minuman keras

Perang Karansebes [Sumber gambar]
Perang ini disebut sebagai Karansebes, yaitu perebutan sebuah wilayah yang terletak di Rumania. Perang terjadi antara tentara Turki Usmani dan tentara Austria. Austria sudah mempersiapkan jiwa dan segala akomodasi perang, sehingga mereka berkeyakinan akan bisa memenangkan pertempuran. Namun, kenyataannya perang ini berakhir kekalahan memalukan untuk Austria di mana 10 ribu tentara tewas karena saling membunuh akibat mabuk. Sedangkan tentara Turki Usmani? Mereka tidak tergores sedikitpun dan berhasil merebut Karansebes.

Perang Saragarhi, ketika 21 orang menang melawan 10 ribu pasukan

Perang Saragarhi [Sumber gambar]
Di bawah komando Havildar Ishar Singh, pasukan Sikh (gabungan resimen Inggris-India) nekat membalas serangan dari tentara Pashtun yang jumlahnya 10 ribu orang. Mereka melakukan berbagai macam cara untuk bisa melindungi benteng Lockhart dan Gulistan di daerah perbatasan Afghanistan dari serangan musuh yang jumlahnya sangat banyak. Namun, dalam hal ini, pasukan Sikh menerapkan strategi cerdas dengan membentuk dua baris sejajar dan menyerang dari jarak 250 meter dengan senjata yang mereka miliki. Walaupun pada akhirnya semua pasukan Sikh tewas, setidaknya mereka sudah membunuh 600 lebih orang. Bantuan kemudian datang bala bantuan dan tentara Pashtun dihancurkan.

Perang melawan Burung Emu

Emu War [Sumber gambar]
Jika kedua perang di atas melawan musuh nyata berupa manusia, perang kali ini adalah perlawanan melawan Burung bernama Emu. Emu War terjadi di Australia Barat pada tahun 1932, akibat populasi emu yang tumbuh di luar kendali. Akhirnya, di bawah pimpinan Mayor Meredith –tentara Australia yang berada di bawah pimpinan Inggris- mereka berniat membunuh 20.000 Burung Emu dengan senapan mesin lewis. Seperti diketahui bahwa Emu adalah jenis burung terbesar kedua di dunia, walaupun sudah menggunakan senjata nyatanya para tentara masih kesusahan. Alhasil, setelah ladang para petani hancur luar biasa, sang komandan menyatakan ‘menyerah’ dan kesal terhadap para tentara yang tak cekatan melawan Emu.

Aroostook War (Perang Babi & Kacang), Tidak bertempur tapi ratusan nyawa tewas

Perbatasan Maine [Sumber gambar]
Perang Aroostook ini terjadi selama 11 bulan, yaitu sejak Desember 1838 hingga November 1839. Perseteruan antara militer Inggris dan Amerika yang memperebutkan wilayah perbatasan di Maine. Setelah perang tahun 1812, wilayah tersebut dianggap Inggris sebagai hak-nya, sehingga warga Amerika yang masuk ke sana akan mendapat peringatan. Tak terima dan merasa Maine masih hak-nya, Amerika melakukan perlawanan. Namun, saat kedua belah pihak sudah siap bertempur ada kesalahan teknis, di mana tentara Amerika tak menerima senjata melainkan daging babi dan kacang-kacangan. In the end, tak ada gencatan senjata, Maine diberikan Inggris kepada Amerika. Tapi, ada ratusan tentara yang meninggal akibat cedera dan sakit selama 11 bulan tersebut.

Perang-perang di atas mungkin  termasuk pertempuran unik, bahkan ada yang menyerah pada musuh’remeh’ serta jumlahnya lebih sedikit. Tapi kembali lagi, bukan masalah kuantitas, tetapi kualitas dan taktik yang digunakan untuk melawan musuhlah yang membuat suatu pasukan bisa menggapai kemenangan.

Written by Ayu

Ayu Lestari, bergabung di Boombastis.com sejak 2017. Seorang ambivert yang jatuh cinta pada tulisan, karena menurutnya dalam menulis tak akan ada puisi yang sumbang dan akan membuat seseorang abadi dalam ingatan. Selain menulis, perempuan kelahiran Palembang ini juga gemar menyanyi, walaupun suaranya tak bisa disetarakan dengan Siti Nurhalizah. Bermimpi bisa melihat setiap pelosok indah Indonesia. Penyuka hujan, senja, puisi dan ungu.

Leave a Reply

3 Waktu Terlarang untuk Mengonsumsi Kopi, Sudah Tahu Belum?

Dikira Jonatan Christie dan Anthony Ginting, Begini Beda Curhatan Joshua Suherman dan Tanta Ginting