Trending

Lagi, Seekor Paus Hamil Ditemukan Mati dengan Perut Penuh Sampah Plastik

Sampah plastik memang menjadi PR tersendiri. Tidak hanya di Indonesia tetapi juga di berbagai negara. Masalahnya, sampah tersebut menjadi ancaman bagi banyak makhluk hidup karena proses penguraiannya yang membutuhkan waktu ratusan tahun.

Kita ambil contoh saja kejadian berulang yang menimpa Ikan Paus, mamalia terbesar yang sering ditemukan mati terdampar di pinggiran pantai. Kematian Ikan Paus ini sering menyisakan kesedihan karena setiap kali dibelah, di dalam perutnya sudah bagaikan ‘tong sampah’ yang berisi banyak plastik, seperti beberapa kejadian yang pernah terjadi ini.

Paus hamil yang mati terdampar di Pantai Porto Cervo

Kabar terhangat datang dari pantai di Porto Cervo, sebuah tujuan wisata popular yang ada di Sardinia, Italia. Seekor Paus Sperma (Physeter macrocephalus) ini sudah ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di pinggiran pantai. Saat dilakukan pembedahan perut, sang paus diketahui sedang dalam kondisi hamil. Mirisnya, tak hanya ada bayi, tetapi juga ada sampah seberat 22 kilogram di dalam perutnya.

Paus dan isi perutnya [Sumber gambar]
Luca Bittau, kepala SEAME Sardinia organisasi nirlaba yang melindungi ordo Cetacea (paus, lumba-lumba, pesut) mengatakan bahwa ada beberapa benda tak terurai yang ditemukan dalam perut paus ini, di antaranya  kantong plastik, jala dan tali pancing, dan banyak benda lain. Melansir liputan6.com dari kantor berita lokal ICONA NEWS, hingga sekarang penyebab kematian paus masih dalam penyelidikan.

Paus mati karena dehidrasi dan kelaparan akibat plastik

Sebelum kejadian di Italia, nasib malang juga dialami seekor paus muda yang ditemukan mati tenggelam di Filipina pada Jumat (15/3/2019). Paus tersebut ditemukan di daerah Mabini, Compostela Valley dalam kondisi meninggal. Menurut penuturan Darrel Blatchley, Ahli biologi kelautan dan pecinta lingkungan, paus ini sudah menunjukkan tanda-tanda kurus, kemungkinan dehidrasi, serta muntah darah sebelum ia meninggal dunia.

Plastik yang ada di dalam perut paus [Sumber gambar]
Seperti biasa, penggiat lingkungan membawa bangkai hewan tersebut untuk dilakukan nekropsi (pemeriksaan pada bangkai hewan). Hasilnya, ada kurang lebih 40 kilogram sampah plastik yang kemungkinan besar membuat paus ini terbunuh. Sampah tersebut terdiri dari  karung beras (kurang lebih ada 16 buah), tas belanjaan, tas perkebunan pi-sang dan kantong plastik.

Paus yang meninggal di Wakatobi

Akhir tahun 2018, tepatnya bulan November, seekor paus sperma ditemukan meninggal dan terdampar di perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra). Aktivis dari Yayasan Lestari Alam Wakatobi, Saleh Hanan memperkirakan jika kematian mamalia sepanjangan 9,6 meter tersebut karena memakan sampah plastik yang ditemukan di dalam perutnya.

Paus mati di Wakatobi [Sumber gambar]
Total sampah mencapai 6 kilogram. Ditemukan dalam kondisi yang telah membusuk, di dalam perut paus tersebut ada berbagai jenis sampah, mulai dari penutup galon, botol plastik, tali rafia, sobekan terpal, botol parfum, sandal jepit, kresek, piring plastik, gelas plastik, hingga jaring, melansir kompas.com. lebih jauh lagi, Saleh mengatakan bahwa paus ini kehilangan orientasi navigasi, sehingga tak mampu bedakan makanan dan non-makanan.

Langkah yang bisa kita lakukan untuk selamatkan ikan paus

Peter Kemple Hardy, seorang dari World Animal Protection –sebuah badan amal kesejahteraan hewan – menyebutkan bahwa setiap tahunnya ada ratusan ikan paus, kura-kura, lumba-lumba, serta anjing laut yang meninggal karena polusi sampah plastik yang ada di laut.

Sampah di dalam perut paus [Sumber gambar]
Hal ini bisa dilihat dari setiap kali ada paus terdampar, di dalam perut mereka ada berkilogram sampah, dan hal itulah yang menggiring mereka kepada kematian. Saat manusia tetap membuang sampah sembarangan ke sungai, maka hewan air sedang terancam nyawanya. Tidak adanya upaya pengurangan limbah plastik akan membuat tragedi semacam ini terulang lagi dan lagi.

BACA JUGA: 10 Potret Pilu Akibat Sampah Ini Benar-Benar Akan Membuat Hatimu Tergugah

Maka dari itu, yuk sekarang mulai kurang-kurangi konsumsi plastik. Kamu bisa memulai dengan menggunakan sedotan reusable, membawa keranjang belanja sendiri, memakai kantong belanja berbahan organik dan ramah lingkungan. Dengan begitu, kita sudah membantu menyelamatkan banyak nyawa, termasuk paus-paus yang ada di lautan berbagai penjuru dunia.

Share
Published by
Ayu

Recent Posts

Statemen Arra Bocah Viral Dianggap Menyinggung Pekerja Pabrik, Ortu Dikritik Netizen dan Psikolog

Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…

1 week ago

Profil Fedi Nuril, Sang Aktor yang Gencar Kritik Pemerintah dan Pejabat Publik

Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…

1 week ago

Kontroversi RUU TNI yang Mendapat Penolakan Masyarakat

Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…

2 weeks ago

Indonesia Airlines, Maskapai Indo tapi Memilih Berpusat di Singapura

Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…

2 weeks ago

Kasus Pencabulan oleh Kapolres Ngada, Akhirnya Pelaku Dimutasi

Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…

3 weeks ago

Terkuaknya Skandal Aktor Termahal Korea Selatan, Netizen: Hindari Pria Korea

Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…

3 weeks ago