Kisah romantisme mungkin tak hanya melulu bicara soal percintaan semata. Kebersamaan dengan pasangan yang terus dirajut hingga usia tua, juga termasuk salah satu romansa dalam kehidupan. Hal inilah yang ada pada diri seorang kakek nenek yang mencari nafkah bersama sebagai pedagang bakso. Kisah keduanya bahkan telah viral di sosial media.

Usai yang telah menapaki senja, tak membuat pasangan kakek nenek bernama Painem (50) dan Parmin (75), memudarkan usaha keduanya dalam mencari rezeki. Berboncengan berdua, mereka tetap berjuala bakso. Painem sendiri , ikut menemani sang suami karena telah berusia tua dan sakit. Bahkan meski kesehatannya sendiri terganggu, ia tetap berangkat berjualan.

View this post on Instagram

[ BAKSO OJEK KUAH ] mbah Parmin & mbah Painem dua pasang usia senja ini tetap gigih mengais rezeki demi kebutuhan hidupnya . Dikala jaman serba modern mbah Parmin (75th) tetap setia mengayuh gerobak yang penuh daganganya dengan serta membonceng istri tercinta mbah Painem (64th) dari rumahnya Kenteng Semanggi menuju alun2 kidul kraton Surakarta , Sesekali bila jalan menanjak beliau berdua turun untuk mendorong gerobaknya bersama sama supaya lebih kuat dan lekas terlewati..😒 . Perlahan tapi pasti kayuhan mbah Parmin akhirnya sampai dengan selamat di tempat mangkal untuk menjajakan Bakso kuah yang Ia jual 😒 Semangatnya patut kita contoh lur.. πŸ‘ AYO LUR LARISI MBAHE πŸ”Έsedekahlah agar bertambahπŸ”Έ βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž– πŸ‘‰ Mulai jam 17.00 beliau mangkal di Pasar malam Alkid sebelah timur wahana mobil senggol yang tengah utara . . . πŸ”ΉπŸ”ΉπŸ”ΉπŸ”ΉπŸ”ΉπŸ”ΉπŸ”ΉπŸ”ΉπŸ”Ή . πŸ‘‰ Bila tidak ada pasar malam mangkal di depan MTA semanggi mulai siang jam 12.00 sampai 16.00 βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž– βœ…Bakso kuah mas Fai (nama cucunya) mbah Parmin βœ… Harga boleh nibakne mulai 3000 dan seterusnya . from @saiff_food

A post shared by Solo, Surakarta dan Sekitarnya (@jelajahsolo) on

“Bapak kan sudah tua, kalau jualan sendiri enggak mampu apalagi Bapak juga sakit, jadi saya harus nemenin bapak. Kalau saya libur suami juga libur enggak kerja. Suami juga punya penyakit jadinya kalau kecapaian ada yang menjaga,” tutur Painem yang dikutip dari Kumparan.

Painem dan sang suami sendiri biasa berjualan keliling di daerah Semanggi atau di depan SMA MTA. Berdua, mereka menyusuri jalan dengan berboncengan gerobak bakso peninggalan cucu mereka yang memilih bekerja. Mengolah bakso sejak subuh, keduanya mulai menjajakan dagangannya sejak siang hari, dan kembali ke rumah pukul 22.00 WIB.

Parmin saat mengolah bakso di kediamannya [sumber gambar]
Di tengah perjuanganya mencari nafkah bersama sang suami, Painem juga harus disibukkan mencari tempat tinggal yang baru. Rumahnya yang berada di tanggul Sungai Bengawan Solo, ternyata akan direlokasi oleh pemerintah setempat. “Selanjutnya nanti cari kontrakan kalau rumah ini jadi digusur,” tutur Painem yang dikutip dari kumparan.

Dalam sebuah postingan yang diunggah oleh akun Instagram @jelajahsolo, tampak aktifitas Parmin dan Painem berboncengan dengan gerobak bakso yang menjadi penopang hidupnya. Tak lelah mengayuh, keduanya berangkat dari rumah di daerah Kenteng Semanggi menuju Alun-alun Kidul Kraton Surakarta. Tampak dari kaca gerobak, tertempel nama “Bakso Kuah Mas Fai”, yang merupakan cucunya.

Parmin dibantu oleh sang istri untuk membuat bakso [sumber gambar]
BACA JUGA: Sekolah Sambil Jualan Bakso, Beginilah Perjuangan Bocah SD Melawan Kerasnya Kehidupan

Luar biasa memang kisah Parmin dan Painem di atas. Di usianya yang telah senja, keduanya tetap saling mendukung satu sama lain untuk mencari nafkah sehari-hari. Bahkan hal tersebut tetap dijalani bersama meski terkadang penyakit menyerang fisik renta mereka. Salut ya Sahabat Boombastis.