Pembantu dari Jawa
Sinetron, FTV atau acara sejenisnya rutin tayang di stasiun televisi Indonesia. Sifatnya juga banyak, mulai dari yang religi, kehidupan sehari-hari, sampai cinta-cintaan. Tapi plot atau jalan ceritanya memang lebih sering sama saja antara satu acara dengan acara lainnya.
Nggak cuma jalan ceritanya aja yang sama, penokohan atau karakter yang muncul juga mirip antara satu dengan yang lain. Seringnya lagi, karakter orang Jawa digambarkan dengan cara yang sama. Meski padahal orang Jawa itu juga nggak gitu-gitu amat.
Di banyak film Indonesia, orang Jawa itu biasanya digambarkan dengan cara bicara yang medhok. Sebenarnya ini cuma karena terbiasa bicara bahasa Jawa yang pengucapannya memang seperti ada penekanan di beberapa bagian. Tapi sayangnya, logat medhok ini akhirnya malah dijadikan penokohan karakter yang norak, kuno, dan lugu. Mereka yang medhok dijadikan bahan bercandaan atau diolok-olok karena dianggap kampungan.
Hal lain yang juga sering ditunjukkan dalam karakter orang Jawa adalah berpakaian tradisional. Bisa pakai sorjan atau blangkon. Sorjan adalah pakaian tradisional Jawa dengan motif garis, blangkon adalah penutup kepala laki-lakinya. Di TV, orang Jawa selalu digambarkan dengan kalau nggak pakai sorjan ya blangkon.
Karena orang Jawa sering kali digambarkan sebagai sosok yang lugu, norak dan kampungan, maka profesi mereka juga jauh dari kesan mewah atau modern. Dalam film, pekerjaan tokoh orang Jawa ini biasanya nggak jauh-jauh dari pekerjaan kasar sebagai pembantu atau bawahan.
Profesi menjadi seorang pembantu itu juga bukan hal yang buruk. Tapi jika terus diulang di berbagai film yang berbeda, akhirnya ini malah jadi stereotipe. Padahal nggak selamanya orang Jawa itu bawahan. Yang sukses sebagai seorang pengusaha sebenarnya juga nggak sedikit.
Setiap kali menampilkan film dengan tokoh karakter Jawa, asal-usulnya kebanyakan berasal dari Jogja. Padahal Jawa itu nggak cuma Jogja, ada Surabaya, Malang, Semarang, Kediri, Nganjuk, Blitar, Solo, dan masih banyak lagi.
Karena yang dijadikan tokoh adalah orang Jawa dari Jogja, maka karakter yang digambarkan adalah orang-orang lembah lembut dan halus. Bukan berarti orang Jawa lain tidak lemah lembut, tapi karakter setiap orang itu berbeda-beda.
Penggambaran orang Jawa yang selalu sama terkadang bisa jadi stereotipe. Jawa itu luas, dan masyarakat Jawa juga macam-macam, jadi nggak bisa kalau cuma diambil satu dan langsung direpresentasikan sebagai orang Jawa secara umum. Hal ini juga berlaku buat penokohan karakter dari daerah lainnya.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…