Saat jarum jam menunjukkan pukul 05.00 dini hari, lazimnya anak usia SD masih asik bergelung di bawah selimut. Namun, hal ini ternyata tidak berlaku untuk Ketut Marianta dan kawan-kawannya (yang berjumlah 18 orang). Bocah lelaki yang kini duduk di kelas VI SD Bunutan, Karangasem ini sudah menuju sekolah sesaat setelah subuh.
Iya, Ketut semangat menimba ilmu meski harus pergi pagi buta dengan membawa senter. Pergi pagi tersebut bukan tanpa alasan, semua karena jarak sekolah dengan rumahnya memakan waktu 3 jam. Kisah Ketut dan kawan-kawannya ini kemudian viral dan menggugah hati banyak orang, terutama para pemerhati Pendidikan.
Kisah Ketut Marianta diceritakan oleh seorang relawan, Andy Karyasa Wayan dalam sebuah film dokumenter pendek berjudul ‘Marianta’ berdurasi 12 menit yang diunggah ke Facebook. Pertemuan Andy, Ketut, serta kawan-kawannya ternyata dimulai dari keikutsertaan bocah tersebut dalam acara yang Andy selenggarakan di sekolah. Dari cerita para guru SD Bunutan, Andy penasaran dan mengikuti kegiatan pulang-pergi sekolah anak-anak tersebut. Hasilnya, Andy pun merasa lelah karena harus berjalan kaki selama kurang lebih enam jam, dengan trek naik turun bukit.
Film dokumenter singkat tersebut ternyata viral dan sudah 2 ribu kali dibagikan. Kesempatan baik untuk Marianta karena ia diundang ke salah satu acara talkshow Hitam Putih, bersama dengan seorang temannya yang bernama Sibang. Kepada Deddy Corbuzier ia mengatakan bahwa dirinya tak pernah sekalipun malas ke sekolah demi masa depan. Di masa yang akan datang, Marianta ingin sekali menjadi seorang guru. Jadi, naik-turun bukit bersama teman-temannya belum apa-apa bila dibandingkan dengan besarnya impian yang ingin mereka raih.
Satu hal yang membuat netizen bersedih lagi adalah permintaan Marianta yang ia utarakan kepada Presiden Indonesia, Bapak Joko Widodo. Tak banyak menuntut, bocah 12 tahun ini hanya meminta akses jalan yang layak agar ia bisa ke sekolah serta air bersih. Karena berdasarkan pengakuannya, daerah di mana ia tinggal, kegiatan MCK hanya mengandalkan air hujan dan sumber air kecil yang jaraknya sekitar 1 kilo menuruni bukit. Saat hujan pun, air menjadi keruh dan berwarna kuning. Melalui Kitabisa.com pun, Andy sudah menggalang bantuan untuk Marianta dan kawan-kawan. Jika mungkin Sahabat Boombastis ada yang mau membantu, silakan klik linknya di sini.
BACA JUGA: Kisah Abdul, Bocah yang Rela Merangkak Sejauh 3 Km Demi Sampai ke Sekolah
Meski tak punya uang, ekonomi serba kekurangan, sekolah harus masuk keluar hutan dan naik-turun bukit, tak sedikitpun semangat anak-anak ini luntur. Mereka tetap menggebu dan memandang ke depan menatap masa depan. Marianta dan 18 kawan-kawannya adalah sosok mandiri yang tegar dalam tempahan alam. Lantas, apakah kamu, kita, yang sekolah di dekat rumah masih mau bermalas-malasan, yakin enggak malu sama mereka?
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…