Kartono dan Kartini [Image Source}
Belum jauh dari Hari Kartini, mari kita membahas Kartono. Mungkin ada di antara kalian yang sering berkelakar, kalau untuk perempuan Hari Kartini dan kalau laki-laki mestinya Hari Kartono. Kabar baiknya, Kartono itu ada. Dan masih punya hubungan darah dengan Kartini.
Namanya R.M. Panji Sosrokartono, kakak kandung R.A. Kartini. . Kartono mungkin adalah gambaran pangeran Jawa yang sesungguhnya. Ganteng, kaya, baik hati, terpelajar, dekat dengan rakyat hingga kaum konglomerat. Ia bahkan disebut sebagai ‘de mooie Sos’ atau Sos yang tampan, oleh gadis-gadis Eropa. Bukan cuma parasnya yang ganteng, Kartono juga punya sikap dan kisah yang mempesona. Kalau perjuangan Kartini digambarkan dengan dramatis dan melankolis, maka Kartono punya sepak terjang yang lebih giras dan menggairahkan
Banyak fakta menarik tentang kejeniusan Kartono yang berselendangkan kesederhanaannya. Dan yang semakin membuatnya istimewa adalah kemampuannya yang misterius dan seolah sakti mandraguna. Berikut ulasannya.
Kartono adalah wartawan perang yang diberi gelar mayor oleh sekutu. Dalam penugasannya, ia sebenarnya dibekali amunisi untuk melindungi diri. Tapi anehnya, dia menolak membawa senjata. Alih-alih melindungi diri, ia berkeyakinan bahwa karena dirinya tak menyerang orang lain, maka tak perlu membawa senjata. Tubuhnya memang tidak anti peluru, tapi keberanian, kepercayaan diri dan ketenangannya inilah yang membuat Kartono terlihat ‘lain’.
Tahu kisah Ponari dan batunya yang bikin orang sembuh dari sakit? Kartono sudah pernah lebih dulu bikin gempar. Ketika ia mendengar anak dari kenalannya sakit keras, dan banyak dokter sudah angkat tangan, Kartono berkeinginan menggebu buat datang dan menengok anak tersebut. Saat ia datang, Kartono hanya menyentuh kening sang anak (menurut cerita lain, sambil diketuk-ketuk 3 kali) dan entah bagaimana, anak itu langsung sembuh, hari itu juga. Para ahli medis dan perawat sampai terheran-heran melihatnya.
Peristiwa ini mencetuskan berdirinya Klinik Darussalam yagg tersohor, klinik kesehatan yang tidak pernah sepi pengunjung. Namun kabarnya kini tempat itu sudah banyak berubah menjadi kompleks ruko dan pertokoan.
Kisah kemampuan Kartono dari mulut ke mulut waktu itu, melahirkan kesan yang unik pada Kartono. Dunia seolah tidak perlu berpikir dua kali untuk memintanya menjadi penyambung lidah dan penerjemah untuk Liga Bangsa-Bangsa di kala suasana tengah keruh oleh kecamuk Perang Dunia. Sampai LBB berubah menjadi PBB, Kartono malah diminta menjadi ketua penerjemah, menggeser banyak poliglot lain dari Eropa dan Amerika.
Sebagai orang Jawa asli dengan segala tradisi saat itu, Sosrokartono pun menjalani banyak ilmu, puasa dan meditasi. Bisa jadi, dari sinilah Kartono memiliki ketenangan, ketajaman pemikiran dan kewaskitaan, di mana ia bisa memprediksikan atau melihat sesuatu sebelum benar-benar terjadi. Hal itu membuat Kartono akhirnya menjadi kepercayaan dan kesayangan para petinggi negeri ini untuk masalah kenegaraan, tak terkecuali Bung Karno.
Dikisahkan Soekarno pernah akan menemui Sosro Kartono diam-diam, belum sampai mengetuk daun pintu, ada pembantu yang membukakan dan berkata, “Pak Sosro sudah menunggu-nunggu.” Kartono dengan kebatinannya yang begitu tajam, bahkan sudah memprediksi Soekarno akan datang dengan rekannya dan menyiapkan kursi sejumlah orang yang datang waktu itu. Kalau dilihat dari kehidupan spiritual Soekarno, sudah bisa dipahami kecocokan antara keduanya.
Hubungan Soekarno dan Kartono diriwayatkan sudah seperti sahabat karib, dan kakak kandung Kartini ini sudah pernah mewanti-wanti akan kejatuhan serta kebangkitan Soekarno sekaligus. Prediksi ini terjadi tak lama kemudian dengan sempat ditahannya Soekarno di penjara.
Keempat kisah ini hanya sekelumit dari kesaksian orang akan kesaktian Kartono yang misterius dan masih mengundang penasaran hingga hari ini. Termasuk bagaimana ia memotret kawah Gunung Kawi dari udara tanpa menggunakan pesawat. Dengan segala ‘kecanggihan’ riwayat hidupnya sebagai wartawan, penasehat dan penyembuh, Kartono sebenarnya memiliki harta yang menumpuk di bank negara Swiss. Namun sang Pangeran Jawa yang tampan dan mengesankan itu ternyata menutup usia dalam keadaan biasa, membujang, sederhana dan apa adanya.
Tahun 1951, Sosrokartono meninggal di Bandung tanpa harta, pusaka maupun jimat. Kisahnya pun kini cenderung terlupakan sebagai wartawan, pahlawan dan cendekiawan. Bila ia hidup di jaman yang lebih modern, tak bisa dibayangkan seperti apa ia akan mendobrak dan mengobrak-abrik politik dan kenegaraan masa kini. Tapi dari kisah Kartono, bukan ilmu sakti yang dikedepankan. Melainkan bagaimana hidup dengan rendah hati, fokus dan membumi, membuat kita memahami kehidupan dan bisa berbuat penuh manfaat untuk bumi yang kita pijak.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…