in

Berdiri Megah Jelang Asian Games, Ini Transformasi Jembatan Ampera dari Waktu ke Waktu

Selain Ibukota, Palembang adalah kota di mana akan diadakannya perhelatan para atlet Asian Games 2018. Sebagai salah satu tuan rumah, sudah seharusnya ia bersolek dan mempercantik setiap sudut kota. Salah satu yang paling ikonik dari Palembang adalah Ampera, jembatan yang membela Sungai Musi dan menghubungkan seberang ulu dan ilir.

Sebelum seindah dan cling seperti sekarang ini, Ampera sudah mengalami beberapa kali renovasi dan perbaikan sejak dibangun pertama kali ketika masa pendudukan Jepang. Nah, agar tak lagi penasaran mari kita lihat bagaimana wajah ikon kota Palembang ini dari waktu ke waktu.

Ide pertama yang muncul dari pemerintahan Belanda

Cikal bakal Ampera dari pemerintah Belanda [Sumber gambar]
Walaupun resmi berdiri pada 1962, ide pembangunan Ampera telah ada sejak tahun 1906, era pemerintahan Belanda. Ketika itu, Palembang masih dipimpin oleh walikota Le Cocq de Ville. Jembatan dibuat sebagai sarana penyambung daerah seberang ulu dan seberang ilir, sehingga tidak perlu lagi menggunakan jalur air. Sayangnya, berpuluh tahun ide ini hanya menjadi wacana, bahkan tak pernah terwujud sampai akhir masa pemerintahan Le Cocq de Ville.

Terwujud setelah kemerdekaan Indonesia

Pembangunan pada 1962 [Sumber gambar]
Setelah Indonesia lepas dari jajahan Belanda dan Jepang, masyarakat kembali ingin mewujudkan ide yang telah ada sebelumnya. Permintaan Masyarakat Palembang tersebut di bawa oleh DPRD Peralihan Kota Besar Palembang ke sidang pleno pada 29 Oktober 1956. Satu tahun setelahnya, terbentuklah Panitia Pembangunan yang terdiri dari Harun Sohar, M. Ali Amin, dan Indra Caya. Gagasan tersebut disampaikan kepada Presiden Soekarno dan diterima, dengan syarat harus ada boulevard (taman) di ujung jembatan.

Dibangun oleh arsitek Jepang pada 1962

Diabngun oleh arsitek asal Jepang [Sumber gambar]
April 1962 Ampera mulai dibangun. Uang pembangunan diambil dari dana pampasan perang Jepang sejumlah USD 4.500.000 atau sekitar Rp. 900.000.000 pada masa itu dengan kurs Dolar USD 1 = Rp200. Tak hanya biaya saja, tenaga ahli yang membangun juga didatangkan langsung dari Negeri Sakura. Pembangunan Ampera memakan waktu sekitar tiga tahun lamanya. Ia diresmikan pada 30 September 1965 dengan nama Jembatan Bung Karno. Penamaan seperti itu merupakan penghargaan rakyat karena sang presiden sudah mendengar permintaan mereka dengan sungguh-sungguh.

Istimewanya Ampera pada pada masanya

Ampera bisa diangkat bagian tengahnya [Sumber gambar]
Ketika selesai dibangun, Ampera menjadi satu-satunya jembatan terpanjang di Asia Tenggara yaitu 1.117 meter (3.665 ft). pada tahun 1966, gerakan anti-Soekarno meminta untuk mengganti nama jembatan, sehingga namanya menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat). Istimewanya, karena berada di atas Sungai Musi, bagian tengah jembatan ini bisa diangkat dengan peralatan mekanis agar kapal bisa lewat membelah Sungai Musi. Namun, sejak 1970, aktivitas turun naik bagian tengah jembatan ini sudah tidak dilakukan lagi. Alasannya, waktu yang digunakan untuk mengangkat bagian tengah bisa mengganggu jalannya lalu lintas di atas jembatan. Tahun 1990, kedua bandul pemberat di menara jembatan ini diturunkan dan tak pernah lagi dinaikkan hingga kini.

Indahnya Ampera menjelang Asian Games 2018

Penampilan Ampera sekarang [Sumber gambar]
Usia Ampera yang mencapai 60 tahun membuat ia tampak kumuh dan tak terurus, cat merah sebagai warna khasnya juga perlahan luntur. Namun, menjelang Asian Games pemerintah terus memoles agar ia layak disebut sebagai ikon kota. Trotoarnya tampak rapih setelah diganti dengan granit tebal. Tak hanya itu, ada pula kursi untuk para pejalan kaki, lampu hias, WiFi, dan pengecatan ulang sehingga warnanya tampak cling dan hidup. Pada kedua menara jembatan juga sudah disediakan jam analog raksasa diameter 5,5 meter dan berat sekitar 200 Kg.

Nah, beginilah wajah baru Ampera yang siap menyambut para atlet yang berlaga di tanah Sriwijaya. Tahun selesainya Jembatan Ampera ketika itu ternyata merupakan tahun di mana Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games ke-4. keberadaan lintasan LRT tepat di sebelah jembatan kini menjadi nilai tambah bagi ikon Kota Palembang.

Written by Ayu

Ayu Lestari, bergabung di Boombastis.com sejak 2017. Seorang ambivert yang jatuh cinta pada tulisan, karena menurutnya dalam menulis tak akan ada puisi yang sumbang dan akan membuat seseorang abadi dalam ingatan. Selain menulis, perempuan kelahiran Palembang ini juga gemar menyanyi, walaupun suaranya tak bisa disetarakan dengan Siti Nurhalizah. Bermimpi bisa melihat setiap pelosok indah Indonesia. Penyuka hujan, senja, puisi dan ungu.

Leave a Reply

Kisah Nenek Penjual Bunga yang Kayuh Sepeda 20 KM Demi Naik Haji ke Makkah

Viral Pemuda ‘Ngasepin’ Primata, Kata Netizen: ‘Dikira Mau Fogging DBD Kali Ya’