Belakangan pemerintah mengeluarkan banyak sekali kebijakan yang dinilai ‘kurang pas’ oleh rakyat Indonesia. Seperti halnya saja yang paling hangat adalah RUU Ketahanan Keluarga serta kebijakan memberantas kemiskinan dengan menikahkan si kaya dan si miskin. Banyak netizen yang kemudian protes, kalau cinta enggak bisa dipaksa, toh?
Sebelum RUU Ketahanan Keluarga –yang isinya mengatur BDSM dkk—yang mendapat sorotan adalah grebek beberapa hotel si Surabaya saat Valentine. Poin-poin di atas dianggap sudah menjadi ranah privasi yang negara yang perlu ikut campur tangan. Toh, daripada masuk dalam urusan ranjang dan rumah tangga penduduk, lebih baik fokus ke beberapa masalah yang tak kunjung selesai ini loh.
Coba deh kamu googling ‘kasus HAM Indonesia yang belum selesai’, ada banyak sekali rekomendasi yang muncul. Mulai dari kasus zaman dahulu kala hingga yang terbaru, mungkin ada belasan bahkan puluhan yang ‘macet’ dan menemukan jalan buntu. Kasus ini sebenarnya, selalu dimunculkan ke permukaan setiap tahun, diseret dalam demo, ditulis dalam bentuk narasi di berbagai portal berita, bahkan ada yang sampai dijadikan buku.
Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK, Agus Rahardjo mengatakan lembaga antisuap ini kini di ujung tanduk. Hal ini berawal dari 10 calon pimpinan KPK yang punya catatan merah, ditambah lagi hantaman revisi UU KPK yang tak menambah masalah makin rumit. Pelemahan KPK ini sebenarnya sudah berlangsung sejak lama, sekitar satu dekade lalu. Sejak 2009, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan pemerintah sudah sembilan kali menggagas revisi UU KPK.
Satu lagi yang harus benar-benar menjadi PR pemerintah adalah kasus-kasus korupsi yang jumlah triliunan. Untuk saat ini, salah satu perusahaan asuransi besar, PT. Jiwasraya sedang dibelit masalah. Kejaksaan Agung telah menyita aset senilai Rp 11 triliun dari enam tersangka yang merupakan uang curian alias korupsi. Aset tersebut berupa mobil mewah, tanah, properti, reksadana, hingga tambang batu bara.
Satu-satunya hal yang dibutuhkan oleh masyarakat saat ini adalah kesejahteraan. Tentu, tak bisa kita tampik bahwa pemerintah sering sekali menjanjikan ini itu, namun hasilnya nol besar. Rakyat dibohongi dan di-PHP oleh janji-janji palsu saat kampanye, setelah terpilih sudah bak kacang lupa kulitnya. Mengapa kesejahteraan ini adalah hal yang diidam-idamkan sejak dulu?
Poin terakhir ini sebenarnya juga sudah sejak lama sekali. Indonesia itu, seperti yang kita tau masuk dalam negara paling buruk dalam segi minat baca. Terbukti dengan kebiasaan judging berita dengan hanya melihat judul saja, tanpa tau isi di dalamnya. Selain itu, untuk beberapa daerah, minat baca ini kurang karena fasilitas yang ada juga tak mendukung.
BACA JUGA: 7 Kasus Besar dan Terpahit di Indonesia yang Belum Juga Berhasil Diselesaikan
Kasus dan permasalahan di atas jauh lebih penting daripada mengurusi ranah privasi warga. Toh, urusan pribadi sudah layaknya diselesaikan sendiri, tanpa ikut campur tangan pemerintah. Ada banyak masalah besar yang perlu penanganan, tak terbatas dengan hanya grebek hotel dan BDSM saja.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…