Orang Bugis [image source]
Indonesia emang merupakan negara yang kaya baik dari segi budaya dan sejarah. Dengan jumlah suku bangsa mencapai kurang lebih 1340 yang mana tiap suku tersebut memiliki keunikan masing-masing termasuk tentang gelar masyarakatnya. Bicara mengenai gelar memang hal ini biasanya identik dengan kasta yang hanya disematkan di depan nama seorang keturuan bangsawan. Misalnya saja Teuku atau Tengku untuk Aceh, Raden untuk Jawa, Daeng Makassar, Andi Bugis, dan lainnya.
Banyak dari kita yang mungkin berpikir gelar tersebut sudah digunakan oleh nenek moyang secara turun temurun dan memang asli dari Indonesia. Namun ternyata ada pendapat lain menyebutkan bahwa gelar daerah tertentu bukan pemberian nenek moyang, melainkan dari pendatang. Dan salah satunya adalah gelar Andi yang disematkan pada nama keturunan bangsawan Bugis.
Sulawesi Selatan konon menjadi salah satu wilayah nusantara yang tidak mudah jatuh ke tangan Belanda. Oleh karena itu kemudian pihak Belanda secara khusus mengirimkan utusannya menuju Sulsel guna menaklukkan daerah ini. Banyak hal yang terjadi pasca pengiriman delegasi Belanda ini salah satunya adalah pemunculan gelar Andi. Andi ini mulai diperkenalkan pada tahun 1930 guna menandai para keturunan bangsawan. Saat itu seorang misionaris Belanda, B.F Matthes mendirikan sekolah yang diberi nama OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren). Matthes kemudian meminta murid-muridnya menyerahkan silsilah keturunan nenek moyangnya.
Cukup pelik sekali sebenarnya kondisi Belanda di kala itu. Sebelum membuat politik etis, Belanda telah mengalami masa-masa sulit pasca perang dunia I. Pihak Belanda saat itu berinisiatif untuk menggerakkan kerajaan-kerajaan di Indonesia yang vakum untuk tetap berdiri di bawah pengawasan mereka. Dengan demikian Belanda tetap bisa mengendalikannya. Hal ini otomatis membuat kekuasaan raja menjadi berkurang dan kemudian pihak Belanda mencari putera mahkota dengan melihat darah bangsawan untuk nantinya diangkat menjadi raja.
Menurut beberapa sumber ternyata sebelum gelar Andi mulai diperkenalkan ternyata masyarakat Sulawesi sudah memiliki panggilan gelarnya sendiri. Titel kebangsawanan yang digunakan masyarakat sebelum masa pemerintahan kolonial Belanda antara lain La atau I untuk laki-laki, serta We khusus perempuan. Ada pula gelar kebangsawanan digunakan sesuai daerah misalnya saja Puang, Bau’, Opu, Karaeng, Arung, maupun Daeng.
Seperti yang sudah disebutkan bahwasannya gelar Andi ini kabarnya hanya diberikan kepada para lulusan sekolah khusus Belanda. Namun fakta yang ada di lapangan adalah ternyata tidak semua Andi berasal dari kaum terpelajar versi Belanda. Karena ternyata beberapa keturuanan bangsawan juga turut menyematkan kata Andi di depan nama anak mereka kala itu. Selain itu ternyata tidak semua bangsawan terpelajar menggunakan gelar ini di depan namanya.
Gelar Andi ini memang merupakan salah satu warisan budaya yang masih menimbulkan pro kontra. Banyak yang menyatakan bahwa para tokoh Sulawesi Selatan sudah sering sekali melakukan penbahasan tentang asal mula gelar ini. Memang beberapa dari mereka membenarkan bahwa gelar ini mulai digunakan sejak tahun 1930, namun banyak pula yang menyangsikan bila Andi adalah pemberian Belanda. Pasalnya, seperti yang tadi disebutkan bahwa tidak mungkin masyarakat Bugis mempertahankan sesuatu yang bukan berasal dari nenek moyang mereka, malah dari sekutu.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…