Sudah pernah baca buku sejarah atau novel dengan latar belakang Inggris abad ke-19 atau yang juga sering disebut dengan Era Victoria? Kesan yang tergambar biasanya adalah bahwa orang Inggris itu sangat ketat dan taat beragama.
Kenyataannya, pada masa itu ternyata rumah prostitusi lebih banyak merajalela daripada sekolah. Kurang lebih 80 ribu wanita bekerja sebagai penyedia jasa esek-esek. Setelah membaca deretan fakta soal prostitusi di Inggris abad ke-19 ini, menurutmu seberapa terobsesikah masa itu dengan seks?
Wanita Inggris pada masa itu cuma memiliki pilihan pekerjaan yang sedikit. Selain itu gajinya juga sangat rendah dengan kondisi kerja yang kadang membahayakan. Mulai dari pedagang di jalan, pekerja pabrik, atau penjaga toko. Kalau cukup beruntung, mereka bisa bekerja sebagai asisten rumah tangga bangsawan.
Semua pelaku prostitusi memang harus melakukan pekerjaan yang sama. Tapi mereka terbagi dalam tiga kelas yang berbeda. Kelas terendah ini yang paling mengenaskan, karena para wanita muda ini dipaksa tidur dengan pria manapun yang dikirimkan oleh si mucikari dan sering kali terpaksa tinggal di tempat yang sangat kotor.
Pekerjaan kelas rendah rata-rata tidak cukup menghasilkan untuk menghidupi keluarga besar. Jadi, pada masa itu para istri umumnya juga ikut menjajakan diri sementara suaminya bekerja seperti biasa. Anehnya, para suami ini juga membiarkan lelaki lain tidur dengan istrinya bahkan ada juga yang sekaligus menjadi mucikarinya.
Pada masa era Victoria, usia 13 tahun dianggap sudah dewasa dan kasus anak-anak yang melahirkan banyak terjadi. Ada banyak orang dari kelas bawah yang melihat anak mereka sebagai komoditas untuk menambah penghasilan. Anak-anak usia 11 atau 12 tahun dijual oleh orang tua sendiri dan mereka tidak akan punya pilihan.
Yang lebih ngeri, si petugas medis yang memeriksa keperawanan gadis tersebut memberi saran agar Stead membuatnya pingsan dengan kloroform. Tujuannya adalah Lily tidak melawan saat akan ditiduri. Laporan penelitian ini membuka mata masyarakat hingga akhirnya dibuatlah hukum baru yang menyatakan usia seseorang dianggap dewasa adalah 16 tahun.
Pada masa itu, para pria juga punya banyak fantasi seksual. Tapi segala fantasi tersebut tidak bisa terpuaskan oleh istrinya karena wanita berkelas dituntut agar tidak larut dalam hal-hal yang berbau seksual. Persetubuhan bagi wanita hanya sarana untuk memiliki anak.
Mirip seperti katalog belanja, pada masa itu pria era Victoria bisa memilih wanita yang diinginkan untuk menemani dengan melihat sebuah buku khusus. Buku tersebut menyimpan deskripsi mulai dari usia, ciri fisik, tipe kepribadian, dan harganya.
Meski Prostitusi adalah hal yang legal, banyak wanita malam dimasukkan ke pusat rehabilitasi dan biasanya dijalankan oleh kelompok religius. Alasan yang digunakan adalah para wanita malam ini bertindak dengan menuruti hawa nafsu mereka.
Siapa sangka jika di era yang sering dianggap sebagai masa-masa yang begitu ketat dengan peraturan dan religius, prostitusi ternyata merajalela dan dianggap sebagai hal yang biasa. Meskipun alasannya memang karena terdorong oleh keadaan, seharusnya ada cara lain yang dilakukan untuk memperbaiki situasi. Kegiatan prostitusi bukan tanpa resiko, karena penyakit berbahaya juga mengancam dari perilaku seperti ini.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…