in

Inilah Daftar Buku dengan Konten ‘Merusak’ yang Menghebohkan Masyarakat Indonesia

Memang benar bila ada peribahasa yang menyatakan bahwa buku adalah jendela dunia, karena memang selalu ada pengetahuan di setiap lembarnya. Namun apa yang terjadi jika jendela dunia itu malah berisi konten yang tidak sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia? Tidak sedikit buku di pasaran yang ternyata isinya mengandung unsur SARA sampai pornografi. Parahnya lagi buku-buku itu dikemas layaknya bacaan anak dan remaja bahkan buku pelajaran sekolah.

Mungkin sang penerbit bermaksud memberikan pengetahuan khusus pada pembaca, namun jika sasarannya anak-anak sepertinya mereka belum bisa memilih dan memilah bacaan yang baik atau tidak bila tanpa dampingan orang tua. Apalagi kalau bacaan tersebut menyasar para remaja yang notabenenya memiliki rasa ingin tahu dan selalu mencoba hal baru, bukankah akan jadi salah tafsir nantinya? Berikut ada empat buku yang sempat menghebohkan dan ditarik dari pasaran karena memuat konten yang tidak mendidik.

Aku Berani Tidur Sendiri

Buku ini memang sedang ramai dibicarakan sekarang. Berawal dari curhatan salah satu orang tua di media sosial yang menceritakan tentang isi buku anak tersebut memuat konten sejenis masturbasi. Buku yang diterbitkan oleh PT Tiga Serangkai itu diketahui dapat mengajarkan anak tentang seksualitas yang kurang tepat dan dapat mendorong seseorang melakukan penyimpangan seksual.

Aku berani tidur sendiri [image source]
Sementara dari pihak penerbit sendiri mengatakan bahwa dalam buku dengan seri ‘Aku Bisa Mengendalikan Diri’ itu memang bertujuan untuk memberikan pendidikan seksual sejak dini pada anak. Dengan konten demikian diharapkan selanjutnya para orang tua dapat menjelaskan pada anak-anak bahwa perilaku seperti itu tidak baik dilakukan. Namun ternyata menurut masyarakat Indonesia konten demikian masih belum pantas diberikan pada anak-anak. Walhasil pihak penerbit menarik semua buku yang telah beredar.

Anak Islam Suka Membaca Jilid 5

Bila buku di atas sarat akan konten berbau pornografi, buku yang satu ini diprotes karena indikasi mengajarkan radikalisme pada anak-anak. Apalagi buku ini adalah buku pelajaran yang diberikan pada murid-murid di Taman Kanak-kanak. Buku yang berjudul Anak Islam Suka Membaca ini dituding memuat kata-kata berunsur kasar di beberapa serinya.

Anak islam suka membaca [image source]

Misalnya saja di jilid ke lima, ada satu halaman yang berisi susunan kata seperti “ Selesai – Raih – Bantai – Kiai”. Sementara di jilid yang sebelumnya juga ada kata-kata seperti ‘jihad, bom, sahid, munafik.’ Saat diklarifikasi ke pihak Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, mereka mengaku bahwa buku tersebut bukan dikeluarkan oleh pihak pemerintah namun memang telah dilakukan penyelidikan. Buku tersebut pertama kali diterbitkan tahun 1999 dan sudah mencapai cetakan ke 160 di 2015 lalu.

Mari, Belajar Pendidikan Agama Islam

Lagi-lagi ada buku pelajaran yang memuat ajaran tidak benar pernah beredar. Buku yang ditujukan untuk siswa SD kelas V ini dilaporkan karena berisi pengetahuan yang tidak sesuai dengan ajaran agama islam. Serupa dengan kasus buku yang pertama, laporan muncul dari orang tua murid yang sedang membantu anaknya belajar menghafal nama-nama Nabi dan Rasul.

Mari belajar pendidikan agama islam [image source]
Buku tersebut menuliskan bahwa Nabi Muhammad SAW berada diurutan yang ke 13 sementara Nabi Isa AS di urutan terakhir. Tentu saja untuk seorang siswa SD yang menghafal urutan nabi akan berpikir bahwa nabi yang terakhir bagi umat islam bukanlah Muhammad SAW. Laporan tersebut kemudian ditujukan pada pihak Kementerian Agama yang berjanji akan menindak tegas bila memang ada buku agama islam yang memuat ajaran menyimpang.

Saatnya Aku Belajar Pacaran

Buku yang keempat ini merupakan buku yang menyasar para remaja. Ketika mulai beredar, KPAI langsung menuntut agar bacaan semacam ini segera ditarik. Buku yang digolongkan dalam psikologi remaja itu memiliki sub judul ‘Ngajak ML’ yang menuliskan “Jadi kalau pacarmu ngajak ML, kamu boleh nurutin maunya kalau kamu sanggup. Artinya kamu mau dan siap menghadapi akibat ML tersebut.”

Saatnya aku belajar pacaran [image source]
Bab tersebut dirasa sangat berbahaya bila dibaca oleh para remaja mengingat kondisi psikologis mereka masih labil dan kerap mencerna informasi dari sekitarnya dengan mentah-mentah. Remaja juga selalu diliputi rasa ingin tahu dan ditakutkan buku ini bisa membuat mereka terbawa pada perilaku menyimpang. Itulah mengapa kemudian banyak masyarakat yang protes dengan beredarnya buku ini.

Saat ini Indonesia memang sedang giat-giatnya menggalakkan program membaca untuk anak dan muda-mudi. Namun, apa jadinya jika bacaan yang ada di pasaran malah memuat konten yang tidak ramah anak? Itulah pentingnya kolaborasi antara pemerintah, penerbit buku, dan orang tua agar kasus-kasus buku di atas tidak terulang lagi. Pastinya, waspadalah sebelum membeli ya.

Written by Faradina

Leave a Reply

Legenda Orang Limun dan Kota Padang 12 yang Bikin Takjub Sekaligus Merinding

Highway of Tears, Jalanan Misterius yang Selalu ‘Menumbalkan’ Wanita