Kerusuhan yang terjadi di Wamena, Papua, beberapa waktu lalu ternyata memantik perhatian dari negara-negara pasifik. Dalam hal ini, Vanuatu menjadi salah satu yang paling vokal bersuara. Dilansir dari CNN Indonesia, Vanuatu meminta Australia turun tangan menangani konflik Papua dalam pidato di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-74.

Menariknya, Australia disebut untuk melibatkan diri dalam setiap peristiwa yang tengah terjadi di Papua. Mengapa demikian? Jika ditarik ke belakang, negeri kanguru itu sedari dulu memang kerap terlibat masalah yang menyangkut urusan dalam negeri Indonesia. Mulai dari penyadapan, kisruh di Timor-Timur, hingga warganya yang terlibat aksi protes pro-kemerdekaan Papua. Lantas, kenapa Australia begitu beraninya?

Posisi Australia yang berada di dalam Dewan HAM PBB

Ilustrasi Dewan HAM PBB [sumber gambar]
Sebagai anggota forum kepulauan pasifik dan dewan HAM PBB, Australia didesak oeh Vanuatu untuk turun tangan menangani konflik di wilayah Papua. Terlebih, Menteri Luar Negeri Vanuatu Ralph Ragenvanu mengatakan “sejarah akan menilai kita” jika tak berbuat apa-apa menanggapi situasi krisis di wilayah paling Timur Indonesia itu. “Australia harus meningkatkan kontribusinya secara substansial dalam masalah Papua Barat, terutama karena (Australia) berada di Dewan HAM PBB, (Australia) adalah anggota Forum Kepulauan Pasifik,” paparnya seperti yang dikutip dari CNN Indonesia.

Permasalahan di masa lalu yang membuat hubungan kedua negara memanas

Demonstrasi massa terkait penyadapan Australia atas Indonesia [sumber gambar]
Bisa dibilang, keberanian Australia pada Indonesia juga bisa dilihat dari kejadian di masa lalu. Lepasnya Timor-Timur, hingga penyadapan yang terjadi di zaman pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), adalah salah satu bukti campur tangan dari negeri kanguru itu terhadap internal Indonesia. Keberhasilan Australia yang telah dilakukan, seolah menjadi semacam kepercayaan diri bahwa mereka bisa mencampuri urusan dalam negeri Indonesia dengan mudah.

Australia merasa kuat karena didukung AS sebagai mitra

AS dan Australia bekerjasama untuk membangun Pangkalan Militer dekat Papua [sumber gambar]
Entah kenapa, wilayah Papua Nugini yang berbatasan langsung dengan Papua Barat yang masuk teritori Indonesia, menjadi lokasi bagi pangkalan militer asing. Dilansir dari CNN Indonesia, Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence mengumumkan kerjasamanya dengan Australia untuk membangun sebuah pangkalan militer di sana. Jelas, ada rencana besar bagi kedua negara di balik pembangunan basis pertahanan tersebut.

Sejarah masa lalu yang harus dicermati oleh Indonesia

Ilustrasi Pulau Papua [sumber gambar]
Dilansir dari laman Greenleft, awalnya Selandia Baru dan Australia mendukung Belanda untuk tetap bercokol di Papua sebagai wilayahnya. Kedua negara tersebut melihat Papua sebagai kepentingan strategis untuk mempertahankan kolonialisme sebagai daerah penyangga potensi serangan dari arah Utara. Dengan kata lain mereka ingin agar Papua tetap menjadi sekutu Barat. Meski demikian, hak tersebut urung terlaksana karena Papua akhirnya telah menjadi bagian dari NKRI.

Keterlibatan asing soal Papua dari dari kacamata analisis

Salah satu bangunan tampak terbakar di Wamena saat kerusuhan [sumber gambar]
Menurut analisis Hendrajit, Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI) pada laman The Global Review, tulisannya yang berjudul “Amerika-Inggris-Australia-Belanda, Mata-Rantai Gerakan Internasionalisasi Untuk Papua Merdeka”, seolah menyibak tabir adanya kepentingan asing di balik masalah yang terjadi di wilayah paling Timur Indonesia tersebut. Jelas, ini perlu menjadi perhatian serius agar bisa segera diatasi secepat mungkin. Analisa yang ada bisa dilihat di sini.

BACA JUGA: 4 Dosa Keji Australia yang Sudah Dilupakan Banyak Orang Indonesia

Dari peristiwa yang ada, sudah jelas siapa sebenarnya pihak asing yang memiliki kepentingan soal Papua. Meski belum terlihat, serangkaian kejadian dan analisa yang ada jelas harus dicermati dan diwaspadai agar hal yang sama tidak terulang kembali di Indonesia.