Lahir dari keluarga seniman, mengawali karier sebagai musisi jalan di jalanan Solo membuat Didi Kempot mahir dalam bermain dengan seni tarik suara. Kurang lebih sudah 800 lagu sudah ia ciptakan. Sayang, ada lagu-lagu yang hak ciptanya terabaikan. Pernah patah hati di usia muda, Didi kempot kemudian menciptakan lagu tentangpatah hati.

Karena lagu-lagunya tersebut, ia dijuluki ‘The Godfather of Brokenheart’ oleh para penggemarnya. Nah, ternyata dari balik lagu-lagu yang ia ciptakan semuanya punya makna. Kepo enggak sih? Yuk, baca ulasan di bawah ini.

Sewu Kuto

Sewu kuto uwes tak liwati, sewu ati tak takoni. Mendengar lirik lagu tersebut, kamu pasti langsung bisa menyanyikan lagunya kan, ngaku deh? Nah, tembang yang secara harfiah diterjemahkan sebagai Seribu Kota ini memang tak pernah lekang oleh zaman. Jika dilihat dari liriknya, Sewu Kuto mengisahkan tentang seseorang yang mencari kekasihnya yang baru saja pergi.

Sang pelantun, karena merasa sangat rindu maka ia mencari kekasihnya hingga ke Seribu Kota. Namun, tetap saja ia tidak menerima kabar tentang keberadaan sang kekasih. Akan tetapi, pelantun asli lagu, Didi Kempot mengungkapkan, bahwa Sewu Kutho tak hanya dimaknai tentang cinta antara pasangan semata. “Rasa cinta terhadap siapa pun, terhadap sesama manusia, sepenuh doa,” ucap Didi Kempot melansir kompas.com.

Stasiun Balapan

Stasiun Balapan adalah lagu Didi Kempot yang rilis pada tahun 1999. Jika ditilik dari terjemahnya. Lagu ini berkisah tentang seseorang yang punya kenangan pahit di Stasiun Balapan, Solo. Ia mengantar kekasihnya pergi dengan air mata mengalir di pipi. Lalu, sang kekasih mengatakan akan pulang dalam waktu sebulan dua bulan.

Nyatanya, ia tak pernah lagi muncul setelah itu, apa enggak kenangan pahit ditelan seumur hidup tuh? Membayangkannya kurang lebih seperti Cinta yang mengantar Rangga ke bandara di film AADC. Janji selalu mengabari, sampai 14 purnama Rangga menghilang tanpa kabar, meninggalkan hati yang luka. Kira-kira begitulah.

Cintaku sekonyong-konyong koder

Cintaku Sekonyong-konyong koder ini sebenarnya tidak punya makna tertentu seperti dua lagu di atas. Disebut ‘sekonyong-konyong koder’ karena bisa terjadi begitu saja, tiba-tiba suka dengan seseorang tanpa ada alasan yang jelas. Dalam lagu ini, sang penyanyi jatuh cinta pada gadis cantik penjual lemper.

Mungkin, dalam kehidupan sehari-hari, kita pun pasti pernah merasakan jatuh cinta yang sekonyong koder. Karena melihat sekilas seseorang, tiba-tiba saja suka. Karena dalam konsepnya, cinta macam ini bisa terjadi kepada siapapun dan di manapun juga.

Parangtritis

Kita tau kalau Parangtritis adalah salah satu pantai yang ada di Yogyakarta. Lagu ini lagi-lagi menceritakan tentang kenangan pahit dengan seseorang di pantai Parangtritis. Si penyanyi sendiri ingin menangis saat ingat pantai tersebut. Karena ia hanya menunggu janji manissang kekasih yang ternyata hanya bohongan belaka.

Ya, mungkin bagi kamu yang di PHP di pantai ini, atau mungkin pernah punya kenangan putus, atau mungkin pernah berjalan bersama mantan pacar di sini, mendengarkan lagu Parangtritis akan semakin mengena.

Suket Teki

Dalam bahasa Jawa, Suket Teki ini adalah rumput gulma yang menjadi pengganggu tanaman. Meski judulnya sederhana, ada banyak hal yang bisa diselami dari lagu ini. Mengisahkan orang yang kecewa dengan kekasihnya, yang sudah ia kasihi dengan sepenuh hati tapi nyatanya tak membalas baik kebaikan si pemberi.

Ya, ibaratnya seseorang yang sudah susah payah merawat padi di sawah, yang tumbuh malah rumput belaka atau Suket Teki. Lagu ini dibuat Didi Kempot, namun kemudian dipopulerkan oleh Nella Karisma dalam irama koplo pada tahun 2017 lalu.

BACA JUGA: Didi Kempot, Lord of Broken Heart yang Diidolakan Para ‘Sad Boy’ Berkat Lagu-lagunya

Nah, adalah lagi lagu lord Didi Kempot yang kamu suka selain 5 lagu di atas? Atau mungkin lagu yang punya makna khusus bagimu karena punya pengalaman yang sama seperti di lagu?