Anak dieksekusi mati
Di era modern, memberikan hukuman kepada anak di bawah umur selalu penuh dilema. Jika diberi hukuman berat maka akan dianggap tak beretika. Namun jika tak dihukum si anak juga tidak bisa belajar. Hal ini berbeda di masa lalu, asal salah, atau dianggap salah, atau dipaksa bersalah, anak akan dihukum seberat-beratnya. Bahkan jika memang memungkinkan hukuman mati, pengadilan akan tetap melakukannya.
Inilah tujuh anak yang dihukum mati di masa lalu. Di usianya yang masih sangat belia, mereka dianggap melakukan kesalahan yang sangat fatal. Hingga, mati adalah jalan satu-satunya yang bisa diambil untuk memberi pelajaran. Monggo, kita bahas satu per satu.
Pada tahun 1944, seorang anak bernama George Stinney Jr yang keturunan Afrika dipaksa haus mengakhiri hidupnya. Ia didakwa telah membunuh dua orang gadis kecil . Atas aksinya ini George langsung diciduk dan diadili tanpa ada pendampingan. Semua juri dalam persidangan yang berkulit putih menyetujui untuk mengeksekusi mati pemuda 14 tahun ini.
Fortune Ferguson mungkin adalah anak kecil paling muda yang pernah dieksekusi di Amerika di abad ke-20 masehi. Anak ini dituduh melakukan pemerkosaan kepada seorang gadis berusia 8 tahun di tahun 1925. Hakim yang memutuskan hukuman menganggap pemuda ini layak dieksekusi mati dengan kursi listrik.
Mary adalah seorang budak kulit hitam yang dieksekusi pada tahun 1838. Sebelum kejadian mengerikan terjadi, ia mengaku telah melakukan pembunuhan terhadap anak kecil berumur 2 tahun. Anak kulit putih itu milik tuan yang telah membelinya dari pedagang.
Hukum Inggris di tahun 1545 berisi tentang hukuman mati bagi siapa saja yang telah berumur 7 tahun. Saat itu Alice telah berumur 11 tahun hingga ia harus rela digantung bersama tawanan dewasa lainnya di sebuah pohon dengan disaksikan oleh banyak orang.
Sekitar abad ke-12 di Italia, Giovanni yang berusia 15 tahun dieksekusi dengan cara yang mengerikan. Ia ditelanjangi lalu diarak keliling kota. Setelah itu ia dikebiri lalu ditimpa setrika panas hingga meninggal di tempat.
Hannah Ocuish adalah seorang yang berasal dari suku Pequot di Amerika. Ia dituduh telah melakukan pembunuhan terhadap anak kecil yang merupakan anggota keluarga bangsa kulit putih. Semua masalah terjadi hanya karena sebutir buah stroberi yang jadi rebutan.
Penjara dan hukuman paling mengerikan justru banyak terjadi dan dialami oleh narapidana anak. Di Inggris sekitar awal abad ke-18 masehi, hanya karena sebuah roti yang nilai tak seberapa, dua anak kecil miskin harus menerima akhir hayatnya dengan cara yang sangat mengerikan.
Bagaimana menurut anda mengenai eksekusi mati kepada anak-anak di atas? Mengerikan sekali bukan? Memang sih salah tapi akan lebih baik jika hukumannya tidak membuat si anak mati. Mungkin bisa dididik dengan lebih baik agar kelak jadi manusia yang hebat.
Fenomena viral Arra, bocah lima tahun yang dikenal karena kepandaiannya berbicara dengan gaya dewasa, kembali…
Nama Fedi Nuril akhir-akhir ini kembali dikenal publik. Bukan karena kembali membintangi film dengan tokoh…
Kamis (20/3/2025) pukul 03.00 WIB, saat asyik scrolling media sosial X sambil sahur, mata tertambat…
Dunia aviasi Indonesia bakal semakin berwarna dengan kehadiran burung-burung besi baru. Indonesia Airlines, sebuah perusahaan…
Lagi-lagi rakyat Indonesia dibikin geleng-geleng kepala oleh ulah aparat penegak hukum. Kali ini kasusnya sedang…
Baru-baru ini, dunia hiburan Korea Selatan diguncang oleh skandal yang melibatkan aktor papan atas, Kim…