Banjir di Jakarta menjadi hal yang membuat suram tahun baru. Jika di beberapa wilayah lain tahun baru dirayakan dengan suka cita, penuh kembang api, bakar jagung dan kumpul bersama keluarga, maka hal itu tak terjadi pada warga yang tinggal di beberapa titik kawasan yang ada di Ibu Kota.

Di malam tahun baru –dan tengah berlangsung hingga hari ini, banjir masih menggenang. Tim Basarnas memang sudah turun tangan, tapi bala bantuan tersebut tetap saja dirasa kurang. Nah, mengenai banjir ini, ada banyak sekali teori dan spekulasi dari para netizen. Berikut ini akan kita ulas dengan singkat.

Banjir yang catut nama Gubernur DKI, Anies Baswedan

Anies Baswedan [sumber gambar]
Nama pertama yang muncul dan menjadi sasaran saat banjir melanda adalah Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Bahkan, tagar #AniesGabisakerja, #BanjirJakarta2020, dan #banjir2020 meramaikan media sosial di trending paling atas. Anies disalahkan lantaran dianggap tidak becus menanggulangi dan mengatasi masalah banjir –yang setiap tahun memang melanda Ibu Kota. Beberapa yang lain membandingkan kinerja Anies dengan Ahok saat sama-sama menjabat sebagai pemimpin DKI. Anies sendiri punya strategi sendiri yang ia namakan ‘naturalisasi’ dalam mengatasi banjir ini. Namun, ternyata hal itu tak cukup untuk mengatasi air yang membanjiri Jakarta.

Banjir terjadi karena kurangnya kesadaran warga

Sampah banjir Jakarta [sumber gambar]
Lingkungan menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya urusan kepala negara atau pemerintah. Banyak netizen yang berpendapat bahwa banjir Jakarta terjadi karena setiap manusia yang tinggal di sana tidak bersahabat dengan lingkungan. Terbukti, saat banjir, ada banyak sekali sampah yang hanyut dan terdampar, volumenya kurang lebih 170 ton. Sudah menjadi warisan turun temurun bahwa masyarakat Indonesia masih sangat kurang kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya. Sementara presiden Joko Widodo menyebut bahwa banjir Jakarta karena sampah dan kerusakan ekologi? Jadi, siapa yang salah, guys?

Cuaca ekstrem dan curah hujan yang luar biasa

Banjir DKI Jakarta 2020 [sumber gambar]
Bulan Desember menjadi penutup tahun di mana hujan akan turun dengan sangat deras, dan hal ini terjadi setiap tahun. Sebenarnya, cuaca ekstrem dan banjir tak hanya di Jakarta saja, ada beberapa daerah yang juga tergenang air, karena curah hujan yang sangat lebat. Namun, titik terparah memang di Ibu Kota. Melansir kompas.com, Ahli Hidrologi dan Dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada ( UGM) M. Pramono Hadi, mengatakan penyebab utama dari banjir ini adalah hujan yang merata dan jumlahnya banyak, kondisi ‘surface storage’ sudah jenuh dengan air. Nah, genangan air ini juga dibarengi dengan air laut pasang, seperti yang diungkap oleh Pengamat Tata Kota, Yayat Supriatna.

Bencana karena banyaknya maksiat di tahun baru

Bencana karena tahun baru [sumber gambar]
Ini tidak ada analisis secara ilmiahnya sih, hanya saja menurut voting para warganet yang sambil guyon. Sudah menjadi hal yang biasa, saat warganet mengaitkan bencana yang terjadi dengan kemaksiatan yang dilakukan di waktu tertentu. Tahun baru menjadi momen di mana hampir semua orang bersuka cita, enggak hanya sebatas bakar jagung dan ayam saja, ada pula yang dugem, booking hotel, party, dan lain-lain. Banyak yang mengatakan kalau banjir merupakan cara Tuhan memberikan peringatan. Hmmm, apakah ini sebuah cocoklogi saja atau memang begitu?

BACA JUGA: Jakarta Hampir Lumpuh karena Banjir, Netizen Sibuk Bikin Meme

Untuk saat ini, sudah belasan korban jatuh karena banjir ini. Kita semua berharap ada solusi untuk mengatasi air yang meluber-luber di Ibu Kota, karena banjir sudah terjadi sejak Jakarta masih bernama Batavia dulu. Jangan lupa, tetap doakan saudara-saudara kita yang ada di lokasi banjir, lebih baik kalau bisa memberikan bantuan secara materi.