Makin hari tambah banyak cara-cara unik di suatu negara untuk menghasilkan minuman yang berkualitas. Semisal kopi luwak di Indonesia atau kopi gajah Asia Tenggara. Meskipun cara mendapatkannya agak nyeleneh, namun tak perlu dikhawatirkan soal rasa karena benar-benar terjamin kualitasnya.

Masih soal minuman unik, ada satu lagi yang bernama Teh Kouchun yang berasal dari Tiongkok. Hal yang unik dari minuman ini sendiri sebenarnya bukan kemasannya, namun cara mengolahnya. Kamu mungkin akan geleng-geleng jika tahu bahwa teh ini daunnya hanya dipetik oleh mereka yang masih perawan. Entah apa alasannya, namun minuman ini seketika menjadi salah satu favorit masyarakat.

Teh perawan yang punya syarat buat para pemetiknya

Kita mungkin sudah hafal dengan kopi luwak. Ya, minuman tersebut mendapatkan namanya lantaran cara unik pada proses pengolahannya yang butuh bantuan hewan. Lalu bagaimana dengan teh perawan Kouchun? Seperti yang sudah kalian duga, teh tersebut juga dinamai macam begitu lantaran proses unik dalam memproduksinya.

Teh Perawan China [sumber gambar]
Tepatnya Henan Gushi Xijiuhua Mountain Development Company, China sempat membuat heboh dunia dengan produknya ini lantaran menyuguhkan produk teh yang hanya dipetik oleh pekerja yang berstatus belum menikah. Dan bukan tanpa alasan, selain karena dipercaya memiliki khasiat khusus, hal ini juga sudah menjadi sebuah tradisi yang turun temurun.

Tidak sampai di situ, ada persyaratan lain yang harus dimiliki

Dalam memilih karyawan untuk pengolahan teh unik ini, ternyata bukan cuma harus perawan saja, tapi ada satu syarat lain yang nggak kalah nyeleneh. Hal tersebut tak lain adalah ketika proses pemetikan daunnya yang mengharuskan memakai mulut. Jadi bisa dibayangkan ya susahnya bikin minuman ini. Belum lagi kalau ada ulat di situ hehe.

Gak sembarangan dipetik [sumber gambar]
Selain soal perawan dan memetik daun teh pakai mulut, perusahaan minuman ini juga hanya menerima karyawan yang ukurannya C cup. Selain itu mereka juga tidak boleh memiliki bekas luka. Dan kemudian syarat penting lain adalah waktu-waktu khusus pemetikannya yang ternyata tidak sembarangan. Kalau dilihat-lihat susah juga ya jadi karyawan di sini. Banyak syarat yang mungkin tidak semua wanita punya.

Meski demikian bayaran yang dijanjikan cukup lumayan

Walaupun tak perlu ijazah dalam mendaftar jadi pemetik ini, namun gaji yang ditawarkan ternyata lumayan juga. Bagaimana tidak, pasalnya para pekerja ini bisa dapat 500 Yuan pada tiap harinya, yang kalau dirupiahkan bisa mencapai angka satu juta. Tentu hal ini menjadi angka yang lumayan mengingat persyaratan yang diajukan hanya dalam bentuk fisik.

Syarat khusus untuk memetik [sumber gambar]
Lantaran sehari bisa sampai sejuta, maka untuk sebulannya kalian bisa hitung sendiri. Ya, setidaknya 25 juta mereka bisa dapatkan dalam 30 hari kerja. Namun, yang seperti ini cukup jarang terjadi karena ritual pemetikan teh ini tidak dilakukan setiap hari, melainkan pada waktu-waktu tertentu saja.

Banyak yang protes dengan metode ini karena dianggap eksploitasi

Ternyata tidak selamanya apa yang diharapkan oleh perusahaan sejalan dengan kenyataan. Bagaimana tidak, pasalnya alih-alih dapat respon positif yang ada malah banyak yang menentang produksi teh yang seperti ini. Teh Kouchun perawan dianggap sebagai salah satu usaha eksploitasi karena selain standar pegawai yang direkrut hanya perawan, dan mereka harus memetik teh dengan mulut.

Banyak yang menentang [sumber gambar]
Selain itu, banyak pula yang menganggap kalau teh perawan tersebut hanyalah sebuah legenda zaman dulu yang kini sudah tidak relevan lagi. Termasuk soal khasiatnya pula. Namun, perusahaan teh ini sendiri bertekad akan terus melestarikan Kouchun.

BACA JUGA: Kejamnya Mengadu Nasib di China, Bikin Kita Bersyukur Bekerja di Indonesia

Dalam membangun bisnis memang penting untuk punya ciri khas. Namun hal yang tak kalah urgensinya adalah soal karyawan di mana harusnya mereka diperlakukan layak, tidak hanya untuk dieksploitasi. Bagaimana menurutmu tentang teh perawan ini? Baiknya terus dilestarikan atau dipertahankan? Atau mungkin dikembangkan saja ke teh ibu-ibu di mana yang petik daun tehnya adalah mama rumah tangga anak satu.