Istilah ‘cabe-cabean’ pasti sudah enggak asing lagi di telinga kamu. Bahkan, konon menurut catatan sejarah, ‘cabe-cabean’ ini sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda dulu, loh ges. Cabe-cabean ini punya beberapa ciri istimewa, seperti kalau boncengan motor sukanya bertiga, berpakaian mini, kalau naik motor enggak pakai helm, senang nongkrong di pinggir jalan, atau mungkin ikut menyaksikan balapan liar.
Nah, kalau di daerah Jawa Tengah, cabe-cabean disebut juga mendes (‘mendes’ dan ‘desa’), merujuk kepada cewek-cewek gadis desa banget yang genit. Nah, buat kamu yang telah lama tinggal di Jogja, kamu pasti sering dong bertemu para cabe-cabean ini di beberapa titik. Untuk yang belum tau, nih akun Twitter @AkuPintarLah_ memberikan deskripsi dan cirinya kepadamu.
Dandanan cetar, pakai behel, bawa matic tanpa helm, uang saku secukupnya, plus ciu, gini nih kalau mendes Bantul Mania lagi galau

Nih, para simpanan sugar daddy yang biasanya ikut party. Yok selesaikan kuliah dulu yok!!

Yang sering bikin resah nih, tattonya boleh Hello Kitty tapi tenaga bacok kayak laki

Kalo ini netizen bilang, berangkat jam 7, jam 9 udah keluar sekolah skip di Burjo

Mendes ini enggak cuma berlaku buat siswa SMP-SMA aja, kini anak kampus juga banyak

Hayuk kamu yang ngekos di daerah Godean, pasti sering ketemu cewek model begini di Mirota kan?

Kalau ini adalah mereka yang menobatkan diri sebagai ‘anak pantai’

Para mendes yang hobinya mirror-selfie di fittingroom nih

Kumpulan para ciwi-ciwi yang menjunjung “freedom”. Free berpendapat, free ngegibah, ngebacot, ngombe, plus rokok-an sesuka hati pokoknya
